Seni Memutar Balik Fakta

- Pewarta

Selasa, 16 Juli 2019 - 10:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Pertemuan MRT dijadikan polemik. Banyak pihak mengail di air keruh. Polarisasi semakin tajam.

Politisi Rocky Gerung menilai pertemuan itu lebih terlihat seperti barter menyingkirkan pihak ke tiga masuk dalam pemerintahan.

“Gerindra tentu lebih tambun,” kata Rocky Gerung.

Entah siapa yang dimaksud “pihak III” itu. Tapi seolah tidak asing. Pak Amien Rais menyatakan seribu persen setuju rekonsiliasi. Tapi jangan bagi-bagi kursi.

Ada yang kecewa tapi diam. Silent majority. Berpikir dengan tenang. Tidak pernah mencaci-maki. Lalu move on karena percaya Pak Prabowo tahu yang terbaik.

Pengamat politik Tony Rosyid membagi dua kelompok; kubu penentang pertemuan MRT dan kubu positif thinking. Menurutnya, kubu penentang dominan di media sosial.

Semasa kampanye Pilkada Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno pernah bilang bahwa media sosial bukan indikator realita dunia nyata. Realita dan media sosial adalah dua hal berbeda.

Indonesia bukan Amerika di mana satu orang satu akun. Di sini, satu buzzer pegang 500 akun.

Di media sosial, Ahok dipuja seperti messias. Realitanya, Ahok tidak disukai di dunia nyata.

Peta diskrepansi dan unparallelisme media sosial-dunia nyata belum berubah. Media sosial dikuasai buzzer penghujat. Dikipas mesin partai tertentu. Simpatisannya kasak-kusuk di group whatsapp. Mereka tebar fitnah terhadap ring 1 Pak Prabowo dan Partai Gerindra.

Ramai di media sosial, sepih di dunia nyata. Ada 60 juta pemilih Prabowo-Sandi. Pencaci Pak Prabowo cuma ribuan akun abal-abal. Angka 1 juta pun terlalu kecil dibanding 60 juta pemilih.

Di kubu penghujat, ada kelompok “mentalitas gerombolan” atau “Ikut-ikutan”.

Gustave Le Bon, Gabriel Tarde, Sigmund Freud, dan Steve Reicher menjelaskan fenomena psikologi ikut-ikutan itu sebagai subjek “Crowd psychology” atau “Mob psychology”.

Orang-orang itu merasa trendy bila ikut-ikutan nangis dan kenceng berseru “kami oposisi”, “Ttdak ada poros III”, “jangan sia-siakan perjuangan kami” dan sebagainya.

Sayangnya, mereka tidak tahu apa yang mereka omongin. Mereka tidak merasa dimanfaatkan politisi, pengamat, grey writer yang mau eksis dengan semua jargon itu.

Para penghujat Pak Prabowo itu pastinya bukan kader Gerindra dan loyalis tegak lurus. Ngakunya doang relawan. Baru beraktifitas 8 bulan tapi sudah berani mendikte dan merasa lebih tahu dari Pak Prabowo.

Padahal Partai Gerindra adalah pihak yang paling berkepentingan Pak Prabowo jadi presiden. Sudah berjuang 11 tahun. Pak Prabowo dan Gerindra adalah satu entitas.

Semua partai punya interest. Saling intrik. Saling terkam. Menggunting dalam lipatan. Tusuk dari dalam. Tak terkecuali partai-partai ex Koalisi Adil-Makmur.

Oposisi dan koalisi hanya bentuk lain dari perjuangan. Another form of struggle. Apa pun yang dipilih Pak Prabowo, pastinya yang terbaik untuk bangsa dan negara. No doubt.

Kaku dan rigid adalah sikap destruktif. Apa lagi dasarnya karena emosi. Seperti Wahono yang minum air sabun dan gantung diri. Karena marah dan frustasi.

Sikap “pokoknya oposisi” kurang-lebih seperti itu. Ancamannya bila ngga oposisi, Gerindra akan bernasib serupa PBB dan Partai Demokrat. Ditinggal pemilih.

Sayangnya fundamental argumen ini keliru. PBB dan Partai Demokrat melakukam blunder politik di injury time sebelum pemilu.

Lima tahun lagi petanya berubah. Kebencian terhadap Jokowi tidak relevan. Tahun 2024, bursa capres diisi orang-orang baru. Tidak ada lagi petahana. Oposisi menjadi percuma.

Menghadapi lawan yang kuat, pilihan koperatif seperti Sukarno-Hatta saat Jepang masuk adalah opsi paling realistis.

Narasi “Oposisi Harga Mati” sangat mungkin digencarkan pihak yang takut jatah kursinya berkurang. Modus ini disebut my friend Helvi Moraza, Wasekjen DPP Gerindra, dengan istilah “Blocking the system by Contra Issue”. Sebuah seni memutar balik fakta.

Ya bagi mereka, rekonsiliasi hanya soal bagi-bagi kursi. Padahal perjuangan Pak Prabowo adalah supaya negeri ini tidak pecah belah.

Drama “tolak rekonsiliasi” akan dilupakan. Masih lebih banyak orang cerdas dan rasional. Life must goes on.

Sisi baik geger-gegeran ini, terbuka topeng-topeng munafik semua orang. Kawan dan lawan. Ada yang bilang Pak Prabowo sebagai “Pacul Tua Tak Berguna”. Catatan itu diperhatikan.

[Oleh: Zeng Wei Jian. Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak)]

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

ABC Impact Luncurkan “2025 Impact Review”

Rabu, 29 Apr 2026 - 10:22 WIB