Meski tragedi puluhan tahun di Gaza tak lepas dari unsur politik dan doktrin agama, namun aspek kemanusiaan mestinya mampu mengetuk nurani dunia bahwa tindakan Israel mengusir, mengambil paksa, membunuh anak-anak dan para wanita itu tidak bisa diterima dan layak dikutuk.
Mereka teroris! Tuduh sebagian orang kepada warga Palestina yang terkapar dalam lautan darah dan ratapan air mata. Ingat, warga Palestina lahir dan telah lama hidup turun temurun di wilayah itu.
Lalu, Israel menguasai dan mengusir paksa mereka dari rumah tempat tinggalnya. Apakah salah jika mereka mempertahankan rumah dan tanah airnya? Tidakkah itu sikap dan pilihan rasional yang akan dilakukan oleh semua bangsa? Termasuk Indonesia ketika masa penjajahan Belanda, Portugis dan Jepang.
Jika memang benar moyang Bani Israel pernah mendirikan dan berkuasa di atas tanah Palestina, Mulai dari Nabi Ya”qub sebelum eksodus ke Mesir hingga Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, apakah kemudian menjadi legal dan halal bagi mereka untuk melakukan pengusiran paksa, penggusuran dan pembantaian? Apalagi moyang warga Palestina datang ke daerah itu tidak dengan cara mengusir dan membantai orang-orang Yahudi yang saat itu berada dalam perbudakan Romawi.
Mereka datang justru untuk membebaskan dan memerdekakan kaum Yahudi. Sungguh tak tahu terima kasih, kata almarhum Nurcholis Madjid, mantan rektor Universitas Paramadina itu.
Warga yang melawan penjajah akan selalu dituduh “teroris”. Sebelum istilah teroris populer, dulu sering muncul stigma “pemberontak”.
Setiap yang melawan penjajah dianggap pemberontak. Pangeran Diponegoro, Soekarno dan Jenderal Soedirman dalam konteks Indonesia juga dulu dianggap pemberontak.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






