Tragedi Palestina, Dimana Nurani Anda?

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 11:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan tahun warga Gaza hidup dalam situasi mencekam. Rasa aman setiap saat berubah jadi kematian. Pixabay.com/hosny_salah

Puluhan tahun warga Gaza hidup dalam situasi mencekam. Rasa aman setiap saat berubah jadi kematian. Pixabay.com/hosny_salah

Meski tragedi puluhan tahun di Gaza tak lepas dari unsur politik dan doktrin agama, namun aspek kemanusiaan mestinya mampu mengetuk nurani dunia bahwa tindakan Israel mengusir, mengambil paksa, membunuh anak-anak dan para wanita itu tidak bisa diterima dan layak dikutuk.

Mereka teroris! Tuduh sebagian orang kepada warga Palestina yang terkapar dalam lautan darah dan ratapan air mata. Ingat, warga Palestina lahir dan telah lama hidup turun temurun di wilayah itu.

Lalu, Israel menguasai dan mengusir paksa mereka dari rumah tempat tinggalnya. Apakah salah jika mereka mempertahankan rumah dan tanah airnya? Tidakkah itu sikap dan pilihan rasional yang akan dilakukan oleh semua bangsa? Termasuk Indonesia ketika masa penjajahan Belanda, Portugis dan Jepang.

Jika memang benar moyang Bani Israel pernah mendirikan dan berkuasa di atas tanah Palestina, Mulai dari Nabi Ya”qub sebelum eksodus ke Mesir hingga Nabi Daud dan Nabi Sulaiman, apakah kemudian menjadi legal dan halal bagi mereka untuk melakukan pengusiran paksa, penggusuran dan pembantaian? Apalagi moyang warga Palestina datang ke daerah itu tidak dengan cara mengusir dan membantai orang-orang Yahudi yang saat itu berada dalam perbudakan Romawi.

Mereka datang justru untuk membebaskan dan memerdekakan kaum Yahudi. Sungguh tak tahu terima kasih, kata almarhum Nurcholis Madjid, mantan rektor Universitas Paramadina itu.

Warga yang melawan penjajah akan selalu dituduh “teroris”. Sebelum istilah teroris populer, dulu sering muncul stigma “pemberontak”.

Setiap yang melawan penjajah dianggap pemberontak. Pangeran Diponegoro, Soekarno dan Jenderal Soedirman dalam konteks Indonesia juga dulu dianggap pemberontak.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru