Sejarah kemudian membuktikan bahwa mereka bukan pemberontak, tapi pejuang. Mereka berjuang untuk mempertahankan tanah airnya. Sama dengan warga Palestina saat ini. Mereka berjuang untuk mempertahankan tanah kelahirannya.
Bicara tragedi Palestina, gak perlu lihat mazhab politik dan identitas agama. Gak perlu menjadi Islam untuk membela warga negara Palestina yang kehilangan nyawa. Anda cukup menjadi manusia untuk mengerti peristiwa kemanusiaan yang puluhan tahun telah menyengsarakan dan mengambil nyawa mereka.
Tidakkah semua agama menolak kekerasan? Tidakkah semua agama mengutuk pembantaian? Agama, apapun itu, Islam Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan yang lain, hadir untuk menyelamatkan umat manusia. Bahkan agama hadir untuk membangun peradaban.
Pembantaian itu kontra peradaban. Pembunuhan itu merusak dan menghambat misi agama dalan membangun peradaban. Doktrin agama, apapun agamanya, jika melegalkan pembantaian, itu adalah doktrin yang dipastikan menyesatkan.
Bukan karena mayoritas warga Palestina muslim, lalu anda yang berbeda agama tutup mata dan kehilangan empati. Ini “fanatik sesat”. Apakah kalau di jalan raya ada yang kecelakaan, anda akan lihat dulu KTP-nya? Kalau seiman ditolong, kalau beda agama, dibiarin? Begitukah cara agama yang benar? Bukankah iman tanpa kemanusiaan itu absurd?
Soal politik, itu obyek lain. Menjadi lebih rumit ketika agama turut melegitimasi penjajahan. Tapi pembantaian anak-anak, para wanita dan warga sipil sebagai fakta yang terjadi puluhan tahun di Palestina adalah bentuk nyata adanya tragedi kontra peradaban dan kemanusiaan.
Apakah hanya karena mereka muslim, lalu anda gak berempati dan bahkan ikut bergembira menyaksikan anak-anak dan para wanita yang beda iman itu terbunuh?
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






