Pernah kita dalam situasi seperti sahabat Umar bin Khattab? Atau bisa merasakan kerinduan yang teramat sangat pada Rosullulloh, yang hanya dengan bertemu kerinduan itu terobati?
Peringatan Maulid pun mendorong motivasi pasukan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi (567 – 622 H) pada masa dinasti Ayyubiyah, memenangi perang salib pada waktu itu.
Peringatan Maulid yang sama saat ini, bisa menjadi mementum ditengah keterpurukan persoalan persoalan dalam bernegara dengan membangkitkan semangat perubahan dengan menghadirkan cinta di tengah menguatnya kebencian antar sasama anak bangsa.
Kelahiran Baginda nabi Muhammad SAW sesungguhnya adalah pembebasan dari sifat kejahiliyaan, kebodohan, kemiskinan dan kesewenang-wenangan, secara perlahan kita lunakkan hati agar tak mengeras ditengah zaman era post truth.
Menurut Ralph Keyes (2004), “dimana kebenaran semakin disamarkan, dan orang-orang menyajikan argumentasi yang sekilas kokoh, namun hakikatnya bangunan epistimologi yang dibangun sangatlah rapuh.”
Akhirnya dari kami, umat akhir zaman wahai Baginda nabi Muhammad Sholallohu’alaihiwasallam, saat ini, esok dan selamanya, yang tersisa dari kami hanyalah cinta dan kerinduan padamu.
Kami sangat berharap bahwa kami termasuk yang dalam sabdamu: “Sesungguhnya orang itu akan bersama dengan orang yang dicintai.”
Hanya itu saja harapan terbesar kami saat ini dan selamanya….
Oleh: Paman Aveng, pekerja swasta






