Tragedi Palestina, Dimana Nurani Anda?

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 11:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Puluhan tahun warga Gaza hidup dalam situasi mencekam. Rasa aman setiap saat berubah jadi kematian. Pixabay.com/hosny_salah

Puluhan tahun warga Gaza hidup dalam situasi mencekam. Rasa aman setiap saat berubah jadi kematian. Pixabay.com/hosny_salah

OPINI INDONESIA – Jika melihat anak-anak, para wanita dan warga sipil dibantai, dan hati anda tidak tersentuh, layak kita curiga apakah anda masih layak disebut sebagai manusia.

Puluhan tahun warga Gaza hidup dalam situasi mencekam. Rasa aman setiap saat berubah jadi kematian ketika peluru tumpah dan menembus tubuh warga yang tak berdosa. Entah sudah berapa ratus ribu atau juta nyawa manusia tak berdosa melayang sia-sia.

Kita empati, bukan semata-mata karena satu agama. Kita tersentuh bukan semata-mata karena satu iman. Kita terenyuh karena kita punya nurani sesama manusia. Sebagai manusia, kita merasakan apa yang mereka rasakan.

Ini bukan sakedar konflik antara Yahudi vs Islam. Tapi, ini tragedi yang mengancam perdamaian dan peradaban dunia. Karena itu, dunia harus ambil peran menghentikannya. Partai, organisasi, NGO dan bangsa-bangsa di dunia harus ikut berupaya menghentikannya.

Sikap PKS yang menunjukkan empati kemanusiaanya atas tragedi kemanusiaan di Palestina akan lebih kuat gaungnya jika juga diikuti oleh partai-partai lain di Indonesia, seperti PKB, PDIP, PAN, Demokrat dan yang lain.

Tapi, jika anda “mengaminkan” pembunuhan dan pembantaian kepada anak-anak dan para wanita Palestina, maka anda tak layak lagi disebut manusia.

Tak perlu iman untuk berempati ke warga Palestina. Ini soal kemanusiaan. Ini menyangkut perasaan dan rasionalitas sebagai manusia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru