KABAR DUKA kembali menyelimuti nasib Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Tuti Tursilawati yang di eksekusi mati pemerintah Arab Saudi tanpa pemberitahuan ke Indonesia.
Kejadian ini, kembali mempertontonkan bagaimana nasib naas TKI yang mencari penghidupan di luar negeri sana.
https://opiniindonesia.com/2018/10/18/nasionalisme-ekonomi/
Anehnya, pihak berwenang dalam hal ini pemerintah Arab Saudi berdasarkan pengakuan pemerintah RI tidak memberikan pemberitahuan perihal eksekusi yang dilakukan terhadap Tuti Tursilawati.
Merujuk pada amanat pembukaan UUD 1945 pada alinea ke-4 yang menjadi tujuan negara Indonesia yakni; (1) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia; (2) Memajukan kesejahteraan umum; (3) Mencerdaskan kehidupan bangsa; dan (4) Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
BACA JUGA : Pak Prabowo dan 67 Tahun Perjuangannya
Pada poin melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Secara ideal, negara bertanggungjawab atas tiap warga negara sebagai bentuk perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM).
Begitu tragis dan miris tiap mendengar kabar saudara kita yang harus kehilangan nyawa di negeri orang karena tidak berhasil mendapat jaminan perlindungan hukum.
Pemerintah dalam hal ini, Kedutaan Besar RI di Arab Saudi dan pemerintah Dalam Negeri harus bertanggungjawab secara moral atas kegagalannya terhadap keluarga TKI yang dieksekusi mati. Dengan tidak mengurangi rasa hormat terhadap pemerintah hari ini. Kita bisa simpulkan bahwa pemerintah kembali menunjukkan kegagalannya dalam mengatasi persoalan bangsa.
Baca Juga:
Toshiba Mulai Mengirim Sampel Nearline Hard Disk SMR Berkapasitas 30-34 TB
TMGM Dukung Bantuan Kemanusiaan yang Disalurkan UNICEF Australia untuk Anak-Anak di Gaza
Belajar dari Prabowo Menyelamatkan Nyawa TKI
Dibalik kegagalan hari ini, elit harus belajar dari kisah heroik seorang Prabowo Subianto yang menyelamatkan seorang TKI bernama Wilfrida dari hukum gantung Malaysia.
Pada Jumat, 13 September 2013 silam, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto terbang ke Malaysia guna menyelamatkan Wilfrida Soik, pekerja rumah tangga (PRT) migran asal Belu, NTT yang terancam hukuman mati karena dituduh melakukan tindak pembunuhan terhadap majikan perempuannya, Yeap Seok Pen.
Perjuangannya membebaskan nyawa saudara sebangsa bahkan menggunakan biaya pribadinya.
Baca Juga:
Alhasil, kemampuan dan kelihaian diplomasi Prabowo berbuah manis usai menemui sejumlah pejabat teras negeri Jiran dimasa pemerintahan Perdana Menteri Malaysia, Najib bin Tun Haji Abdul Razak (Najib Razak) kala itu.
Kedatangannya ke Malaysia sempat disorot oleh Media Malaysia dengan mengangkat judul ‘Indonesian Presidential Hopeful to Attend Trial’. Media The Malaysian Insider juga sempat mengulas langkah calon presiden RI tersebut.
Prabowo sebelumnya menemui Wilfrida di penjara Kota Bharu, Kelantan. Dalam pertemuan itu, Wilfrida meminta bantuan kepada Prabowo untuk dapat segera dibebaskan.
Hal tersebut, adalah sebuah kisah heoik bagaimana seorang tokoh bangsa menyelamatkan nyawa saudara sebangsanya. Berbagai negara di penjuru dunia mungkin punya kisah heroik yang lain. Tapi di Indonesia ada sosok Prabowo yang mengukir manis pembebasan Wilfrida.
Ditengah kesemrawutan kondisi bangsa hari ini, negara butuh sosok Prabowo yang berjuang sebesar-besarnya untuk kepentingan negara dan bangsa. Jauh dari hiruk-pikuk pencitraan. Prabowo sosok tulus yang dibutuhkan bangsa hari ini.
[Oleh : Asran Siara, Sekjen Literatur Institut]
Baca Juga:
CMES Indonesia International Machine Tool Exhibition 2026 Debut pada 2-4 Juli di Jakarta
Harbour City dan Bandai Namco Asia Hadirkan “Bandai Namco Asia Journey in Hong Kong” Edisi Perdana







