Gagasan dan Pengalaman Mengukur Kebahagian Penduduk Indonesia

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 24 Agustus 2020 - 13:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konsultan politik dan tokoh media sosial, Denny JA. (Foto : Instagram @dennyja_world)

Konsultan politik dan tokoh media sosial, Denny JA. (Foto : Instagram @dennyja_world)

Opiniindonesia.com – Membaca buku Denny JA, Sprituality of Happiness: Spiritualitas Baru Abad ke 21, Narasi Ilmu Pengetahuan, sangat menarik. Cara bertuturnya berfokus kepada manfaat bagi orang lain.

Para pembaca disuguhi hidangan yang tidak terlalu rumit. Topik yang dibahas, sangat menantang.

Tulisan saya ini bukan untuk memperdebatkan, melainkan lebih banyak pada upaya memberikan sudut pandang tambahan, dengan fokus memahami dan mengukur happiness.

Sebagai seorang statistisi yang mendapat amanah dari negara untuk mengukur varian karakteristik kesejahteraan masyarakat bangsa, salah satu yang saya telaah adalah kebahagiaan. Bagaimana kebahagiaan orang Indonesia seharusnya didefinisikan, diukur dan diinterpretasikan.

Sebelum diukur, langkah paling awal proses statistik yang biasa dilakukan adalah memahami konsep, definisi operasional, komponen dan determinan yang memengaruhi besaran dari sesuatu yang diukur.

Teori bisa berubah antar waktu. Pengertian operasional dari suatu konsep juga berubah. Yang menarik, apakah gagasan tentang kebahagiaan dari Bung Denny JA ini dapat memperkaya pijakan kita dalam memahami dan mengukur kebahagiaan?

Perspektif Tradisional Memahami Kebahagiaan

Tentu lebih banyak, tetapi sejauh yang saya pelajari, setidaknya ada empat perspektif yang selama ini menjadi titik pijak para peneliti dalam mendefinisikan dan mengukur kebahagiaan.

Pertama, perspektif Hedonis (Hedonism theory, Bentham, 1970).

Kebahagiaan adalah perkara memaksimalkan perasaan senang (pleasure) dan meminimalkan perasaan menderita (pain). Membandingkan antara banyaknya momen bahagia dengan momen ketidakbahagiaan.
Jika lebih banyak momen bahagia, maka seseorang itu disebut bahagia.

Gagasan ini dimentahkan oleh banyak pihak terutama terkait cara pengukurannya. Apakah mengukur rasa senang itu sepanjang hidup seseorang (accross one’ life-span). Sangat sulit untuk diukur.

Kedua, perspektif yang terkait dengan Desire. Pemenuhan keinginan (Desire theory, Griffin, 1986). Seseorang akan dikatakan dan yang bersangkutan merasa bahagia jika dapat memenuhi keinginannya yang variatif.

Happiness is a matter of getting what you want. Seseorang akan bahagia jika mendapatkan sesuatu yang dia inginkan.

Teori ini mengusung banyak hal yang kurang jelas seperti bagaimana membedakan antara pemenuhan keinginan yang bersifat leisure, yang tidak banyak manfaatnya, dan yang memang bermanfaat.

Misalnya, terpenuhi keinginan untuk mengonsumsi minuman yang memabukkan dan membahayakan yang bersangkutan, dengan yang menyehatkan.

Ketiga, Objective List Theory (Nussbaum, 1992; Sen 1985). Perspektif ini tidak berurusan dengan feeling seperti dua perspektif terdahulu. Kebahagiaan itu adalah pencapaian dari daftar kebutuhan hidup yang memang berharga: karir di pekerjaan, persahabatan, hidup sehat, pendidikan yang baik, kasih sayang dan hal-hal yang bermanfaat lainnya.

Kebahagiaan itu juga terkait dengan hidup yang terafiliasi dan dapat memberi manfaat bagi keluarga, komunitas, masyarakat dan alam semesta.

Authentic Happiness

Teori ini menyempurnakan tiga teori dasar sebelumnya. Martin Seligman (2003) menggunakan pendekatan psikologi positif, yang mengatakan bahwa seseorang dapat mengalami 3 varian kebahagiaan. Yaitu: the pleasant life (hedonism), the Good Life dan The Meaningful Life.

Seligman menyintesa ketiganya sebagai Authentic Happiness.
Good life bukan hanya terpenuhinya keinginan (desire) tetapi, dan sekaligus membedakannya dengan pleasant life,

Yaitu adanya proses engagement to the desire. Keinginan harus terikat kuat dengan kenikmatan kontemplatif (pleasure of contemplation) yang terserap secara mendalam dalam jiwa dan sekaligus lebur di dalamnya (with deep absorption and immersion).

Dengan kata lain disebut sebagai Flow. Dalam Objevtive List Theory bukan sekadar bagaimana mencapai “trully valuable things in the real world.” Doing and Being.

Yang justru tidak kalah pentingnya bagaimana pencapaian tersebut memberi makna dan manfaat untuk orang banyak: keluarga, komunitas, masyarakat dan alam semesta (meaningful life > life of affiliation).

Kedua pendekatan good life dan meaningful life dipengaruhi oleh pemikiran Aristoteles, Eudaimonia.

Eudaimonia mencakup, misalnya, pertumbuhan personal, pengembangan potensi diri, pencapaian prestasi individu, dan berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Pada awalnya Martin Seligman berupaya menjadikan ketiga perspektif tersebut di atas sebagai titik pijak dalam memahami apa itu kebahagiaan (happiness). Kemudian dia justru merekomendir yang terakhir yaitu Meaningful Life atau Life of Affiliation dengan dijiwai oleh PERMA (Positive Emotions, Engagement, Relationships, Meaning and Purpose, and Accomplishments).

Rangkaian teori yang banyak digunakan dalam mengukur kebahagiaan, dari pertengahan abad ke-20 hingga kini, telah banyak berkontribusi dalam penelitian kebahagiaan (happiness) skala mikro.

Tetapi, gagasan yang dikembangkan oleh Seligman dan kawan-kawan, dalam beberapa hal sangat sulit diterapkan untuk mengukur tingkat kebahagiaan suatu bangsa atau populasi yang besar. Beberapa konsep yang dikembangkan sulit didefinisikan dalam spektrum operasional yang sederhana.

Upaya Dunia Mencari Cara Pengukuran Happiness

Banyak ragam teori kebahagiaan yang telah dikembangkan oleh para ahli psikologi. Di luar itu, dunia pun terus berikhtiar untuk menemukan formulasi yang pas. Yaitu yang sederhana dan bisa diukur yang menjamin validitas dan kualitas data yg dihasilkan.

Bhutan adalah salah satu negara yang mengembangkan pengukuran tingkat kebahagiaan warganya.

Gross National Happiness_ (GNH) hasil survei berskala nasional tahun 2007 dan 2011, hasilnya cukup bergemuruh. GNH dipandang lebih mewakili tingkat capaian pembangunan dibandingkan dengan GDP atau indikator-indikator lainnya.

Benar. Sekilas cara mendefinisikan kebahagiaan dan cara pengukurannya seperti memenuhi prinsip-prinsip ilmiah. Tetapi ketika didalami lebih cermat ternyata mengusung cukup banyak kelemahan mendasar.

Salah satunya terletak pada pemilihan variabel. Mereka menggunakan 9 domain, 33 indikator dan 124 variabel. Antar variabel saling menenggelamkan. Sehingga hasil yang diperoleh menjadi sulit dimaknai dengan baik.

Banyak variabel yang seharusnya bisa direduksi dan tidak perlu menjadi indikator, ternyata tidak dilakukan. Proses uji validitas faktor diabaikan, sehingga uji validitas konstruk pun tidak pernah dilakukan.

Mengapa? Karena intervensi Raja dalam penentuan variabel lebih diakomodir daripada prinsip-prinsip ilmiah pengukuran.

Para pemimpin Eropa juga tidak puas dengan indikator kesejahteraan sebagai hasil dari pembangunan yang diadopsi sampai dekade awal abad ke-21. Indikator pembangunan yang merefleksikan kesejahteraan seperti PQLI (Physical Quality of Life Index) masih jauh dari memuaskan dan terutama tidak menyentuh aspek yang sangat mendasar, yaitu Happiness (Kebahagiaan).

Juga, ukuran-ukuran yang dikembangkan di seluruh dunia sejauh ini adalah ukuran yang “dipaksakan” dari atas. Itu bukan ukuran yang langsung dirasakan oleh setiap orang.

Pada Februari 2008, Pemerintah Prancis diinisiasi oleh Nicolas Sarkozy membentuk komisi khusus, The Commission on the Measurement of Economic Performance and Social Progress (CMEPSP). Komisi ini melibatkan dan dimotori oleh tiga tokoh utama dan terkemuka dunia di bidangnya. Yaitu: Joseph E Stiglitz (chair), Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitousi.

Tugas utamanya merumuskan pendekatan dan metode pengukuran kesejahteraan ekonomi dan kesejahteraan sosial yang baru.

September 2009, laporan selesai dan di sana dinyatakan bahwa “making people happy and satisfied with their lives is a universal goal of human existence”. “World needs alternative measurement which emphasis on people, on what they value as important”.

Komisi Sarkozy pun memberikan rekomendasi untuk mengukur kualitas hidup (quality of life) yang terdiri dari Subjective Well-Being (SWB), _Capabilities dan Economic Notions.

SWB sangat dekat dengan kebahagiaan (happiness). Tetapi seperti yang dikatakan oleh Diener ( 1984) bahwa SWB is best understood as encompassing three separate aspects:

Pertama, Life Satisfaction: penilaian seseorang terhadap keseluruhan kehidupannya dalam waktu tertentu. Life Satisfaction_ yang dimaksud dalam laporan Komisi Sarkozy ini lebih berkorelasi dengan konsep-konsep Eudaimonia yang awalnya digagas oleh Aristoteles.

The more Eidaimonia or the more Meaning, the more life satisfaction.

Kedua, keberadaan perasaan positif (positive affect) dan mengalirnya emosi positif.

Ketiga, ketiadaan perasaan negatif (negative affect) di setiap moment kehidupan. Positive and negative affect_ ini sangat berhubungan dengan kebahagiaan dari perspektif Hedonisme.

Pengumpulan data terkait SWB yang di dalamnya terdapat dimensi Happiness sudah terlebih dahulu dilakukan, misalnya, oleh Gallup World Poll, di 140 negara, dalam National-Representative Survey.

Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan menggunakan 0-10 Ladder-of-Life Scale. Fokus pengamatan Kebahagiaan (Happiness) Masyarakat dari dimensi _Life-Evaluation dan Positive Affect (by counting the number of positive experiences of each respondent and then by averaging these scores at the country level).

Mengukur Kebahagiaan Orang Indonesia

Uraian sejauh ini menggambarkan begitu variatifnya pemaknaan kebahagiaan. Begitu banyak pendekatan, definisi dan metode dalam merumuskan dan mengukurnya.

Dari beragam perbedaan tersebut, tahun 2013 saya dan teman-teman di BPS mencoba merumuskan kerangka konseptual untuk mendefinisikan dan merekonstruksikan tentang bagaimana kebahagiaan orang Indonesia.

Dari berbagai penelusuran literatur dan saling bertukar pengalaman dengan banyak negara, akhirnya di 2017 BPS lebih mengacu ke kerangka konseptual Kebahagiaan yang diadopsi oleh OECD, yang juga sejalan dengan pemikiran yang berkembang di Komisi Sarkozy, Perancis dan NEF (National Economic Foundation) Inggris.

Ringkasnya, dalam merumuskan kebahagiaan, ada tiga dimensi yang digunakan: 1) Dimensi Kepuasan Hidup (Life Satisfaction); 2) Dimensi Perasaan (Affect); dan 3) Dimensi Hidup yang Bermakna (Eudaimonia).

Di dimensi kepuasan hidup dibedakan atas Kepuasan Hidup Personal dan Kepuasan Hidup Sosial.

Walau dimensinya sama dengan yang digunakan oleh OECD, indikator yang digunakan disesuaikan dengan kondisi Indonesia.

Di Indonesia, jumlah indikator ada 19 dan juga menggunakan 0-10 _Ladder of-Life Scale. Dalam kepuasan hidup personal, misalnya, terdapat indikator kepuasan seseorang akan pendidikan, pendapatan, kesehatan, dan keadaan rumah tempat tinggal.

Dalamn Kepuasaan Hidup Sosial digunakan indikator keharmonisan keluarga, waktu luang, hubungan sosial bertetangga, keadaan lingkungan dan rasa aman.

Dalam Dimensi Eudaimonia, indikator yang dikembangkan mencakup kemandirian (autonomy), penguasaan lingkungan (environmental mastery), pengembangan diri (personal growth), hubungan positif dengan orang lain (positive relation with others), memaknai tujuan hidup dan penerimaan diri (self acceptance).

Selain itu juga dimasukkan dimensi Affect dengan 2 indikator. Yaitu rangkaian perasaan senang dan rangkaian perasaan tertekan.

Desember 2017, BPS mempublikasikan hasil hitungan Indeks Kebahagiaan orang Indonesia, yaitu: sebesar 70,69 pada skala 0 sampai 100.

Beberapa provinsi di Indonesia Timur, seperti Maluku Utara dan Gorontalo, walau dari perspektif pendapatan terbilang rendah, tetapi masyarakatnya, bersama masyarakat Bangka Belitung, paling bahagia.

Laki-laki lebih bahagia dari perempuan. Mereka yang lajang lebih bahagia dari yang menikah. Mereka yang lebih terdidik lebih bahagia dibanding mereka yang kurang berpendidikan, dan banyak temuan lainnya.

Tentang Buku Spirituality of Happiness

Telah dikemukakan sebelumnya tentang jejak-jejak rumusan teoretis kebahagiaan. Yang diungkap Denny JA terkait formula 3P + 2S –Personal Relation, Positivity, Passion, Small Winding dan Spiritual Blue Diamonds (Virtue, Power of Giving dan the Oneness) sesungguhnya sejalan dan senapas dengan yang dikemukakan dalam teori _Authentic Happiness_nya Martin Seligman.

Intinya kebahagiaan dan hidup yang bermakna. Kebahagiaannya Seligman, bukan sekadar feeling of pleasure tetapi mengikuti jalan Eudaimonia-nya Aristoteles. Yaitu, makna hidup yang diperoleh dari pleasure of contemplation, with deep absorption and immersion.

Formula _Happiness_nya Denny JA juga selaras dan sudah dioperasionalkan dalam penelitian lapangan yang masif, baik oleh OECD maupun oleh Survei Pengukuran Tingkat Kebahagiaan (SPTK) yang dilakukan oleh BPS Indonesia.

Tentu saja kesimpulan ini masih umum. Lengkapnya tentu saja memerlukan uraian yang lebih detil dari setiap dimensi dari formula 3P + 2S tersebut.

Bagaimanapun buku Spirituality of Happiness-nya Denny JA sangat bagus dan merangsang diskusi yang lebih terarah, terkait apa, mengapa, dan bagaimana _Happiness itu sesungguhnya.

Oleh : Jousairi Hasbullah, Pemerhati sosial

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru