Perbedaan Data Beras Menjadi Batu Sandungan bagi Jokowi-Maruf Amin

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 1 November 2018 - 17:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PERTAMA, JUALAN utama petahana dan tim suksesnya adalah kinerja dan prestasi kabinet kerja selama 4 tahun menjabat yg menurut beberapa survei mendapat sentimen positif masyarakat.

Kinerja Mentan yg seperti ini jelas blunder dan memalukan, mengingat salah saru opsi penting dari Prabowo Sandi sebagaikompetitor di Pilpres 2019 adalah justru terkait persoalan ekonomi yang saat ini dirasakan oleh masyarakat, yaitu sulitnya lapangan pekerjaan, anjloknya nilai tukar rupiah dan tingginya harga kebutuhan pokok.

https://opiniindonesia.com/2018/10/25/dana-kelurangan-dan-ujaran-sontoloyo-jokowi/

Oleh karena itu, ungkapan perbedaan data beras versi Kementan dengan BPS tentu saja mencederai kepercayaan publik dan berdampak negatif terhadap elektabilitas Presiden Joko Widodo.

Kedua, tim pemenangan Jokowi-Maruf Amin sering kali berargumen bahwa kelemahan pihak oposisi dalam mengkritik capaian dan prestasi pemerintah adalah tidak berdasarkan data yang valid dan akurat.

Dengan kata lain, pihak oposisi selalu disindir tidak berdasarkan data yang benar, melainkan hanya asumsi dan dugaan semata, begitu juga sebaliknya. Kecuali mengunggulkan kinerjanya, sebagai petahana Jokowi punya keterbatasan untuk melempar janji-janji lagi, manakala banyak janji yang sejak 2014 masih belum terealisasi.

Sementara Prabowo-Sandi saat ini punya kesempatan bagus untuk mengkritisi kebijakan dan capaian pemerintah saat ini, yang diklaim bersumber dari data terbaru.

Ketiga, ironisnya data BPS sering kali malah menjadi data rujukan bagi tim pemenangan Jokowi-Maruf Amin terkait kritik yang sering kali diungkapkan oposisi. Elit-elit politik di kubu petahana senantiasa menjadikan data BPS sebagai patokan berargumen, seperti misalnya soal polemik angka kemiskinan di Indonesia saat ini.

Nah, jika kemudian data pembantu presiden (Kementan) sendiri berbeda dengan data BPS, lalu data mana yg bisa dipercaya? Ini bisa menggerus kepercayaan publik karena salah satu dari lembaga tersebut bernuansa menyebarkan data-data yang tidak sahih (hoax), apalagi menyangkut kebutuhan pokok sehari-hari.

Oleh karena itu, problem perbedaan data beras dan pertanian ini harus terus menjadi diskursus publik. Sebab, perbadaan data beras ini sangat menentukan arah dan kebijakan pembangunan pertanian ke depan dan berimbas pada tidak terkendalinya harga komoditas pertanian di pasaran.

Sebelumnya Prabowo Subianto sudah menggaungkan pentingnya swasembada pangan, air dan energi, bagi bangsa dan rakyat Indonesia.

[Oleh : Igor Dirgantara, Direktur Survey & Polling (SPIN)]

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru