Ayah Bagaikan Lilin di Kala Gelap, Menemani agar Tidak Sunyi

Avatar photo

- Pewarta

Kamis, 12 November 2020 - 09:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hari Ayah dirayakan setiap tanggal 12 November. (Foto: pixabay.com)

Hari Ayah dirayakan setiap tanggal 12 November. (Foto: pixabay.com)

Opiniindonesia.com – “Selamat Hari Ayah, Pak. Bagi tips jadi seorang ayah dong, Pak?” Begitu teks percakapan seorang ayah muda kepada saya pagi ini. Saya pun menjawab, terima kasih.

Tentang tips menjadi seorang ayah, saya tidak menjawabnya. Karena semua ayah, pasti punya tips sendiri dalam menjalani predikat sebagai “ayah”.

Ayah bukan gelar, bukan pula kasta apalagi hanya status. Tapi ayah adalah tanggung jawab, ayah adalah amanah. Siapapun yang menjadi ayah. Pasti melekkat pada dirinya tanggung jawab dan amanah secara bersamaan.

Tanpa perlu ada diskusi tentang ayah ideal atau tidak ideal. Apalagi ayah idaman dan tidak idaman. Ayah itu proses. Dan setiap ayah punya ceritanya sendiri. Tanpa bisa dibandingkan atau digeneralisasi.

Ayah saya kini 75 tahun. Dulu, ia seorang tantara bintara yang berjuang mati-matian untuk menghidupi istri dan empat anaknya. Sepulang kerja, ia berangkat lagi untuk “jaga malam” di suatu perusahaan.

Begitu setiap harinya, tiap malam tidak tidur di rumah. Hingga pensiun di tahun 2000-an pun masih begitu. Mencari uang tambahan di luar gaji. Itu semua dilakukan karena tanggung jawab ayah.

Lalu, sejak tahun 1997, ibu saya pun terserang stroke. Sejak itu pula, ayah saya mulai merawat ibu saya di rumah sambil menikmati masa pensiunnya. Tentu dengan bantuan anak-anaknya.

Singkat kata, hingga ibu saya meninggal dunia tahun 2017 pun, ayah sayalah yang merawat penuh sehari-seharinya. Mendampingi, memberi makan, memandikan, dan mengurus segala sesuatunya.

Seorang ayah yang 20 tahun merawat istri dalam sakitnya. Itu semua dilakukan karena amanah seorang ayah. Dan kini, ayah saya pun tengah menikmati masa pensiunnya di rumah.

Sambil ibadah menjalani hari tuanya. Selain menengoknya, saya selalu berdoa agar ayah saya sehat wal afiat dan selalu diberkahi Allah SWT.

Berita Terkait

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:34 WIB

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Berita Terbaru