Demokrasi Konglomerat

- Pewarta

Senin, 29 Juli 2019 - 14:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah pejuang Indonesia memekikkan kemerdekaan seusai menduduki markas tentara Jepang S.E 21/24 Butai saat pementasan drama kolosal pengibaran bendera Merah Putih pertama kali di Dermaga Ujung, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (29/11). Drama kolosal mengenai cerita perjuangan rakyat Indonesia saat menghadang dan menawan tentara Jepang yang keluar masuk wilayah Ujung tersebut digelar oleh pegiat sejarah Roodeburg dan alumni AAL angkatan ke-51. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/kye/15

Sejumlah pejuang Indonesia memekikkan kemerdekaan seusai menduduki markas tentara Jepang S.E 21/24 Butai saat pementasan drama kolosal pengibaran bendera Merah Putih pertama kali di Dermaga Ujung, Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (29/11). Drama kolosal mengenai cerita perjuangan rakyat Indonesia saat menghadang dan menawan tentara Jepang yang keluar masuk wilayah Ujung tersebut digelar oleh pegiat sejarah Roodeburg dan alumni AAL angkatan ke-51. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/kye/15

Opiniindonesia.com – Sudah lama tak mendengar pekikan Demorkasi Pancasila. Juga tidak pernah lagi tertulis Ekonomi Pancasila. Juga, tidak ada lagi diskusi, seminar atau lokakarya tentang pengelolaan kehidupan politik, ekonomi, maupun sosial yang berembel-embel Pancasila.

Dalam bentuk naskah-naskah akademis, mungkin masih ada di perpustakaan. Begitu pula dalam bentuk karya tulis buku, tentu masih banyak. Tetapi, dalam bentuk implementasi politik, ekonomi, sosial-budaya, hukum, dlsb, sudah tidak ada lagi. Penipuan besar kalau ada yang berani mengatakan nilai-nilai Pancasila itu ada di dalam kehidupan kita.

Kalaupun ada, nilai-nilai Pancasila itu hanya hidup di ruangan privat. Misalnya, umat Islam masih melaksanakan sholat di rumah atau berjemaah di masjid. Mereka masih mau berbagi dengan sesama. Masih saling perduli. Tetapi, Pancasila sebagai panduan berbangsa dan bernegara seperti yang dicita-citakan oleh para pemikir dan pendiri bangsa, kini sudah tinggal nama. Tidak ada lagi Pancasila sebagai rujukan.

Lantas, kenapa bisa begitu? Apa sebabnya?

Penjelasannya sangat pendek. Dan juga sangat pedih. Yaitu, karena Indonesia sudah mengadopsi liberalisme. Total. Sepenuh hati. Demokrasi liberal, ekonomi liberal. Sistem sosial sudah liberal, begitu juga kebudayaan. Semua liberal.

Inti dari semua sub-sistem liberal itu adalah modal. Kapital. Duit alias fulus. Demokrasi liberal diatur oleh uang (modal). Uang besar, tentunya. Ekonomi liberal, pastilah ekonomi yang berdasarkan kekuatan duit tak berbatas. Legislasi ekonomi dan bisnis didikte oleh para pemilik modal besar.

Sub-sistem politik-sosial-budaya juga dikendalikan sepenuhnya oleh uang. Semuanya berdasarkan dan dikendalikan oleh modal. Buktinya adalah ‘money politics’ yang kini menjadi kultur baru dunia politik. Untuk urusan politik, tidak ada budaya. Sesakral apa pun budaya yang Anda bangga-banggakan selama ini.

Demokrasi yang kita praktekkan memerlukan uang besar. Uang besar itu ada di tangan para pemilik korporasi besar. Para politisi sepenuhnya bergantung dan diatur oleh mereka. Demokrasi Pancasila sudah tinggal slogan.

Omong kosong bila ada yang masih mengklaim demokrasi di negara ini dituntun oleh nilai-nilai Pancasila. Dengan fakta-fakta yang ada, demokrasi adalah milik para pengusaha besar. Milik para konglomerat, apalagi konglomerat hitam-jalang.

Merekalah yang menentukan siapa yang harus duduk sebagai penguasa. Mulai dari eksekutif tertinggi hingga satu-dua level di bawahnya. Mereka pula yang mengatur siapa-siapa yang harus duduk sebagai bos instansi-instansi penting yang mereka perlukan untuk kepentingan bisnis mereka.

Itulah demokrasi uang, demokrasi padat modal. Dari waktu ke waktu semakin menancap kuat. Inilah yang sedang diturun-temurunkan kepada generasi penerus.

Demokrasi yang berkonten nilai-nilai Pancasila, telah mati. Sudah lama dikuburkan. Reformasi 1999 yang semula dimaksudkan untuk penguatan posisi politik rakyat, akhirnya dibajak oleh para pemilik modal. Merekalah yang sejak Reformasi menyusun diktat yang menggeser Demokrasi Pancasila menjadi Demokraasi Konglomerat.

Anehnya, masih ada yang percaya demokrasi yang ada hari ini masih pancasilais. Jawabannya: omong kosong! Tidak ada demokrasi Pancasila. Demokrasi yang berketuhanan itu tidak seperti yang sedang Anda terapkan hari ini. Demokrasi yang berkemanusiaan yang adil dan beradab itu, tidak seperti pilpres 2019.

Demokrasi Pancasila dirancang untuk melahirkan para politisi dan pemimpin yang bermoral. Pemimpin yang punya rasa malu ketika ditemukan banyak bukti kecurangan yang menunjuk ke diri Anda.

Demokrasi Pancasila tidak dirancang untuk menampilkan pemimpin semisal Anda. Sebaliknya, Anda adalah contoh spektakuler yang muncul dari Demokrasi Konglomerat.

Oleh: Asyari Usman. Penulis adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru