Fenomena orang gila yang mempersikusi bahkan membunuh ulama ini memang kerap kali muncul saat kondisi sosial dan politik sedang tidak kondusif, dan termasuk sedang menuju Pemilu atau Pilkada.
Peristiwa Banyuwangi sekitar akhir tahun 1998 lalu, awalnya dapatlah kita lihat sebagai tragedi pembantaian terhadap dukun santet, tetapi yang selanjutnya juga menyasar kepada ulama dan guru ngaji dengan memakai pola orang gila. Karena orang gila tidak bisa diusut, maka kasusnya menjadi hilang.
Tragedi tersebut, jika kita lihat dari kacamata politik, langsung atau tidak langsung bisa juga akibat dari adanya suksesi kepemimpinan dari rezim Suharto dan Pemilu yang akan berlangsung di pertengahan tahun berikutnya, yaitu tahun di 1999, dimana eforia reformasi sangatlah kental serta kondisi sosial politik yang memanas.
Hal ini tidaklah jauh berbeda dengan kondisi soial politik sekarang ini yang sedang memanas, ditambah dengan adanya problematik kebijakan kesehatan dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang terlihat tidak sinkron dalam penanggulangan wabah Covid-19 sekarang ini.
Dibulan September ini juga adalah bulan yang sangat kental dengan aroma Partai Komunis Indonesia.






