Ketika HRS mengangkat kedua tangannya yang diborgol di depan media, banyak diantara para pengikut dan pendukungnya memahami bahwa itu isyarat yang tegas untuk terus berjuang. Berjuang menegakkan keadilan untuk enam pengikutnya yang ditembak mati.
Mereka mengingat kata-kata HRS sebelum datang ke Polda Metro Jaya: “kalau saya dipenjara atau dibunuh, perjuangan harus tetap dilanjutkan”. Perjuangan seperti apa yang dimaksud HRS, para pengikut dan pendukungnya mungkin sudah memahami arti dan arahnya.
Lalu, berapa besar massa yang akan hadir untuk menuntut keadilan di depan istana jumat besok? Mungkinkah jumlahnya mencapai jutaan sebagaimana yang diprediksi Hendro Priyono, mantan kepala BIN itu? Apakah jumat besok akan menjadi puncak berkumpulnya massa yang sangat besar, atau menjadi awal untuk demonstrasi-demonstrasi berikutnya yang lebih besar?
Pertanyaan-pertanyaan ini akan dibuktikan jumat besok. Ini sekaligus untuk mengukur pertama, kemampuan para pengikut dan pendukung HRS dalam melakukan konsolidasi massa.
Kedua, mengukur seberapa besar keprihatinan dan empati rakyat terhadap penembakan yang mengakibatkan kematian enam anak muda di KM 50 itu. Banyak pihak yang melihat bahwa ini bukan soal HRS dan FPI, tapi ini soal kemanusiaan.
Soal enam anak muda mati yang dada kirinya tertembus dua hingga tiga peluru. Sehingga tokoh seperti Prof. Azumardi Azra dan Natalius Pigai ikut lantang bicara.
Seberapa besar massa yang akan hadir di depan istana, jutaan sekalipun, diharapkan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes), dan tidak ada tindakan anarkis. Tidak boleh terpancing provokator yang biasanya memang sengaja hadir untuk memperkeruh suasana.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






