Kehadiran massa secara artifisial adalah satu-satunya cara yang harus dilakukan. Ke mana Jokowi pergi, di situ dilakukan pengerahan massa.
Sialnya, di antara massa yang dikerahkan itu banyak ‘orang pintar’. Dan mereka nekat. Nekat mempermalukan Jokowi. Mereka itu anak-anak muda.
Tetapi juga banyak orang dewasa. Belakangan ini, berswafoto dua jari dengan latar belakang Jokowi, trendy di mana-mana. Menyambut Jokowi di pinggir jalan dengan acungan dua jari, sekarang menjadi fenomenal.
Jadi, Jokowi tak hanya ‘disakiti’ dengan mengosongkan kursi-kursi kampanye ruangan (indoor). Melainkan juga ‘didera’ dengan acungan dua-jari (‘V’).
Dan ini terjadi meluas. Bahkan di depan Istana sekali pun. Masyarakat tidak lagi perduli tantangan yang mereka hadapi dalam menunjukkan perlawanan.
Tak salah kalau kita meyakini bahwa rapat tertutup itu membicarakan perlawanan keras dari rakyat yang dilancarkan dengan santai. Jusuf Kalla (JK) kelihatannya mulai risau.
Tapi tak tahu kita apakah beliau risau sungguhan atau risau ecek-ecek. Kuat dugaan saya, Pak JK cuma risau basa-basi.
Halaman : 1 2 3 4 5 Selanjutnya





