Menjadi Profesor yang Diktator, Jual Diktat Beli Motor

Avatar photo

- Pewarta

Sabtu, 5 September 2020 - 22:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wartawan Senior, Dhimam Abror Djuraid (Foto: Dok pribadi)

Wartawan Senior, Dhimam Abror Djuraid (Foto: Dok pribadi)

Ketika dia pensiun dan sudah tidak menjadi guru besar sebutan itu harus tanggal. Kalau dia tetap mengajar dan menjalankan fungsi guru besar pasca pensiun dia disebut sebagai “profesor emeritus“, guru besar kehormatan.

Jabatan tertinggi akademik adalah doktor yang ditempuh melalui jenjang pendidikan S3, dan gelar itu melekat seumur hidup. Di Eropa dan Amerika gelar doktor disebut sebagai PhD atau philosophy doctor, karena penyandang gelar ini menguasai filsafat ilmu.

Di Indonesia sebutan PhD sekarang malah lebih dikenal untuk antaran makanan pizza. Di kampus luar negeri doktor Indonesia yang bangga menempelkan gelar DR di depan namanya akan kecele karena umumnya dipakai untuk sebutan “dining room”, ruang makan.

Di Indonesia marak gelar doktor honoris causa, HC, gelar doktor kehormatan yang diberikan kepada seseorang tanpa harus susah-susah sekolah.

Gelar doktor kehormatan ini diberikan kepada seseorang karena dianggap punya keahlian selevel doktor, atau punya jasa yang besar di bidang keilmuan tertentu. Tapi praktiknya malah banyak yang jual beli gelar HC, atau gelar kehormatan yang bermotivasi politik.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru