Bahasa “membunuh atasan” berkaitan dengan pembelaan terhadap Pancasila dan UUD 1945 sebagai wujud dari Sumpah Prajurit meskipun harus dengan mengorbankan nyawa.
Aspek keumatan yang disentuh Jenderal Gatot adalah kekesalannya terhadap ungkapan Menteri Agama yang dinilai menistakan para hafidz Qur’an. Menurut Menag ciri radikalisme diawali dengan penampilan “good looking” apakah itu hafidz atau menguasai bahasa Arab.
Kecurigaan berlebihan ini yang mengingatkan Gatot pada saat menjadi Panglima yang pernah mengadakan muroja’ah 1000 hafidz. Menghormati dan memuliakannya. Untuk ini Gatot siap membela para hafidz.
Di tengah krisis kepemimpinan berkarakter, kemunculan dan ketegasan sikap Gatot Nurmantyo menjadi fenomena. Tanpa harus dicurigai keinginan menjadi pemimpin, Jenderal Gatot memang seorang pemimpin.
Khas militer yang memahami masalah krusial bangsa. Sangat faham dengan proxy war dan hakekat ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya






