Wind Of Change

- Pewarta

Jumat, 28 Juni 2019 - 14:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com –  The world is closing in
Did you ever think
That we could be so close, like brothers
The future’s in the air
I can feel it everywhere
Blowing with the wind of change

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow dream away
In the wind of change

Walking down the street
Distance memories
Are burried in the past forever

Itulah cuplikan lagu yang dinyanyikan Scorpions, salah satu group band asal Hannover Jerman beraliran hard rock yang lagi hit-hitnya di tahun 70-an dan 80-an. (Bubar tahun 2010). Inilah salah satu group band yang paling aku suka saat itu. Dulu, saat masih di bangku SMP. Saking sukanya, di dinding kamarku penuh foto-foto personil Scorpions. Selain Gun n Roses yang populer dengan lagunya “November Rain Chords”.

Diantara lagu favorit Scorpions yang aku paling suka judulnya “Wind of Change” (Angin Perubahan). Selain “Still Loving You”. Ceileh…

Lagu “Wind of Change” ini bercerita tentang runtuhnya tembok Berlin (Berliner Mauer) di Jerman. Tembok yang dibangun era perang dingin, tepatnya 13 Agustus 1961 itu runtuh setelah kurang lebih 30 tahun memisahkan rakyat Jerman. Juga menelan 100-200 orang yang tertembak mati karena memaksa melewati tembok itu. Masih kalah dengan jumlah petugas KPPS yang mati karena kelelahan ya?

Di dalam lagu ini digambarkan dengan sangat sempurna bagaimana konflik dua Jerman (Barat dan Timur) itu berakhir dengan robohnya tembok Berlin (Reunifikasi 3 Oktober 1990). Rakyat yang semula dipisahkan oleh tembok raksasa itu kemudian bertemu kembali layaknya saudara. Dan berakhirnya konflik dua Jerman ini memberi harapan masa depan yang cerah buat anak-anak Jerman kedepan.

Dan hingga hari ini aku masih suka dengerin lagu “wind of change” ini di mobil. Sambil nyetir aku membayangkan betapa di negeriku ini sedang berdiri kokoh tembok yang sangat kuat. Bukan tembok Berlin, tapi tembok politik yang memisahkan dua kelompok anak bangsa. Terbelah karena pilihan politik yang berbeda. Terbelah atau sengaja dibelah? Pertanyaan cerdas!

Sudah tiga tahun ini rasanya lelah menjadi bangsa yang terbelah. Yang satu pendukung fanatik rezim, yang satunya lagi pembenci rezim. Keduanya ada yang saling bunuh. Kalau bully dan maki, itu makanan setiap hari.

Sesama umat beragama, sesama umat Islam, sesama ulama, bahkan sesama orang yang berideologi pancasila, saling hujat dan bermusuhan. Yang satu dicurigai PKI. Satu lagi menuduh anti NKRI. Khilafah dan Islam radikal jadi permainan isu politik. Menyedihkan!

Kebencian dipelihara untuk terus tumbuh. Kendati sebagian sudah mulai sadar, ternyata itu semua didesign dengan sangat rapi dan sistematis sebagai bagian dari permainan politik. Hanya muncul saat pemilu. Proyek bagi broker dan konsultan politik yang biasa cari recehan. Juga bagi operator lapangan yang menguasai kelompok massa yang diaku sebagai ormas. Disitulah mereka mencari nafkah dan penghidupan.

Dimana pemimpin? Mereka sering tak hadir. Malah dicurigai ikut terlibat. Mereka bahkan dianggap yang paling bertanggung jawab atas keterbelahan ini.

Kriminalisasi, persekusi, intimidasi, manipulasi dalam pemilu, dan tindakan represi ini makin akrab di telinga rakyat. Selalu jadi perbincangan para aktifis. Ini semua dianggap sebagai faktor utama penyebab mengapa bangsa ini terbelah.

Rakyat merasa kehilangan kedaulatannya. Mereka kemudian menjemput kedaulatan itu di jalanan. Tapi media tak membelanya. Bungkam. Karena media juga punya nasib yang sama: sama-sama kehilangan kedaulatan. Sebagian media malah ikut-ikutan membenturkan satu kelompok dengan yang lain. Caranya? Lakukan framing buruk terus menerus kepada kelompok tertentu. Ini order? Gak tahu lah…

Mahasiswa? Dimana mereka? Sudah lebih dulu mati. Sejak lama. Lama sekali. Mahasiswa 2019 tak sama dengan mahasiswa ’65-’66. Beda juga dengan mahasiswa ’98. Beda banget. Apakah mereka masuk angin?

Dua pilar demokrasi telah mati. Media dan mahasiswa. Lalu, apa yang bisa diharapkan dari pemilu jika demokrasi itu telah mati.

Problem yang diperbincangkan para aktifis di atas bisa jadi seperti tembok Berlin. Rakyat berharap itu semua diakhiri. Cukup, dan harus disudahi. Rakyat bersaudara. Jangan pisahkan rakyat dengan ketidakadilan. Jangan pisahkan rakyat dengan cara merampas kedaulatan dari pihak yang tak sejalan, dan memberikannya kepada pihak yang dianggap kawan. Itu cara-cara yang berpotensi memisahkan rakyat dari saudaranya. Saudara setanah air. Saudara sebangsa. Saudara satu ideologi bernama Pancasila.

Elit, terutama yang diberi amanah kekuasaan, bertanggungjawab untuk mendamaikan anak-anak bangsa. “The world is closing in. Did you ever think. That we could be so close, like brothers.”

Kenapa sesama saudara setanah air dan sebangsa harus berbenturan? Polisi dan rakyat bersaudara. Kenapa mesti berantem? Sementara dua negara di Eropa bernama Jerman Barat dan Jerman Timur saja sudah melepas ego berkuasa. Runtuhkan tembok Berlin, dan mereka bersatu kembali.

Lalu, kapan angin perubahan berhembus di negeri ini? “Blowing with the wind of change”. Kapan anak-anak kita tetap punya mimpi masa depan bangsa ini? “Where the children of tomorrow dream away”. Ini tak mungkin terwujud jika generasi leluhurnya terus menerus memelihara konflik untuk mempertahankan kekuasaan.

Konflik akan reda jika pertama, penguasa lebih dominan menampilkan wajah keadilan. Tak ada lagi kawan maupun lawan. Semua harus diakhiri dalam bingkai NKRI. Kedua, mengembalikan hak kedaulatan kepada rakyat. Demokrasi harus diberikan ruang dengan mendorong adanya kebebasan berpendapat, kemerdekaan pers dan mimbar-mimbar akademik. Mengembalikan pimpinan perguruan tinggi (rektor dan dekan) kepada otoritas pihak akademik, dalam hal ini adalah senat perguruan tinggi. Tidak lagi ditentukan dan dikendalikan oleh menteri dan presiden. Ketiga, penguasa harus lebih banyak merangkul, dan tak lagi bersikap memukul. Aparat terbebas dari intervensi kekuasaan. Dan para elit lebih memilih pola komunikasi dengan menggunakan narasi-narasi yang menyejukkan, mendamaikan, dan tidak membenturkan. Tak ada lagi perang total dan ekaploitasi isu Islam radikal.

Jika tiga poin di atas terpenuhi, konflik akan mereda dan “wind of change” atau angin perubahan akan berhembus di negeri ini.

Oleh: Tony Rosyid. Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru