Seperti diketahui Indonesia tidak menggunakan lockdown walaupun punya UU tentang Karantina Kesehatan sejak 2018, mirip dengan Lockdown dengan berbagai konsekwensinya harus ditanggung oleh pemerintah pusat.
Pemerintah Jokowi ternyata tidak enjoy menggunakan UU tersebut karena ada konsekwensi yang tidak bisa disanggupi, sehingga dibuatlah PP tentang PSBB yang lebih lunak tanpa ada konsekwensi terhadap pelanggarnya.
Kehadiran HRS yang dikatakan oleh isteri saya sebagai “keberanian” ternyata membuat bingung rejim Jokowi.
Kemanapun HRS hadir, di Bandara, di pesta kawinan di rumah, kunjungan ke gurunya di Megamendung Bogor. Dikerubitin bagaikan semut. Pendukung dan pencinta ulama mnyambut dengan gegap gempita. Sepanjang jalan penuh kenangan.
HRS juga mengungkap rencananya untuk berkeliling ke seluruh Indonesia berdakwah dengan tema Revolusi Akhlak. Nah terbayang oleh rejim Jokowi, jika HRS akan selalu dikerubutin oleh pendukung bila hadir ke daerah-daerah. Bahaya.
Bahaya buat rakyat jelas tidak karena rakyat dengan senang hati datang menyambut. Kadang tanpa pakai 1 M (Masker). Bahaya buat rejim sepertinya lebih kena
Covid-19 yang telah berkuasa selama 9 bulan dijadikan lebih “kuasa” lagi. Kapolda di copot tidak mampu mengatasi Covid. Kepala Daerah diancam diberhentikan gegara Covid.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






