Opiniindonesia.com – Perubahan adalah keniscayaan. Perubahan pasti terjadi. Perubahan tidak bisa dibendung oleh apapun. Dan, perubahan itu sekarang sedang menggelinding di republik ini.
Berulang kali Prabowo yang naik di jip terbuka saat berkeliling ring road Stadion Utama GBK, Ahad (7/4/2019) pagi menyapa para pendukungnya, menoleh ke mobil di belakangnya. Wajahnya begitu takjub, kagum campur haru saat memandang Amien Rais yang ada di atas jip, tepat di belakangnya. Lalu, lokomotif reformasi itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi seperti orang berdoa. Prabowo pun mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi serta menengadahkan wajahnya ke langit. “Allahu Akbar!” pekiknya.
Adegan itu berulang-ulang terjadi. Adegan itu disaksikan ratusan ribu umat, baik yang ada di ring road maupun mereka yang ada di selasar stadion. Suara takbir, shalawat nabi, dan pekik: “Prabowo…., Prabowo….., Prabowo!” Susul menyusul menggema.
Jutaan rakyat yang hadir di GBK adalah cerminan dari rakyat yang ada di seluruh pelosok tanah air. Rakyat yang menghendaki perubahan. Rakyat yang sudah bosan dengan kebohongan demi kebohongan. Rakyat sudah tak tahan lagi dengan himpitan kenyataan hidup.
Prabowo Jawabannya
Ketika semua itu membentang di hadapan, maka Prabowo-Sandilah yang menjadi jawaban. Dan, tak berlebihan jika saya mengatakan: ” You’re time is up, Mas Jok!”
Kisah Ahad (7/4/2019) dinihari hingga jam 10.oo pagi yang mengharu-biru itu, tidak terjadi begitu saja. Kisah itu pastilah bagian dari skenario Allah untuk kita semua. Ya, kita semua, termasuk mereka saudara-saudara kita yang masih diseberang jalan. Bukalah mata hatimu, sadarilah kekeliruanmu, segeralah kembali.
Kisah dukungan jutaan orang pada Prabowo-Sandi, bukan sekedar memberi dukungan biasa. Tapi, jutaan orang itu tampak juga ingin memberi pelajaran pada para elit tentang bagaimana hidup yang sesungguhnya. Maklum, para elit, khususnya yang ada di toko sebelah hingga saat ini belum memberikan contoh yang baik. Mereka asyik pada diri sendiri dan kelompoknya. Maka, derita rakyat pun mereka nafikan.
Nah, Ahad itu di GBK, rakyat datang bergelombang dari tengah malam hingga tengah hari. Mereka tidak dibiayai, tidak diminta, bahkan tidak disediakan sebotol air mineral pun. Tapi, jutaan orang yang hadir, alhamdulillah tidak kekurangan apapun.
Baca Juga:
Jajaran tenda putih satu-satunya yang disediakan panitia, di isi oleh para sukarelawan dengan beratus organisasi dadakan. Komunitas dan organisasi mereka ini, masing-masing dilahirkan secara mandiri oleh kumpulannya karena terpanggil untuk meraih perubahan. Bahwa apabila akhirnya mereka mendukung Prabowo-Sandi, itu semata-mata karena Prabowo-Sandi menawarkan perubahan.
Meski mereka, dalam keterbatasan, tapi mereka berhasil mengumpulkan dana untuk membantu kampanye akbar Prabowo-Sandi. Mereka menyiapkan air minum, kopi, teh, makanan-makanan kecil. Mereka bagikan kepada seluruh orang yang membutuhkan. Apa yang mereka lakukan, basisnya keikhlasan.
Sekali lagi, apa yang mereka lakukan tidak serta-merta, tapi pasti karena izin dan ridha Allah. Ini bukan satu-satunya bentuk keikhlasan yang mereka tunjukan. Di dalam stadion ustadz Yusuf Martak menyampaikan beberapa kantung plastik besar yang berisi uang sumbangan pada Prabowo. Sekali lagi, itu pun bukan yang pertama mereka lakukan.
Hari ini di Jogyakarta, Prabowo kembali memecahkan rekor sambutan keikhlasan. Puluhan ribu massa memadati Stadion Kridosono. Sekali lagi kita disuguhkan oleh pemandangan bagaimana mayoritas rakyat yang ingin bersama Prabowo menjemput perubahan.
Baca Juga:
Sigenergy Resmi Melantai di Bursa Efek Hong Kong, Didukung Investor Global Terkemuka
Pedoman Pertama tentang Penanganan Neuropati Perifer untuk Apoteker di Asia Pasifik
CGTN: Pertukaran Budaya Mempererat Hubungan Persahabatan Tiongkok-Vietnam
Jika begitu, maka tak berlebihankah jika saya mengucapkan : “Waktumu sudah berakhir Mas Jok!”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!!!
Oleh : M. Nigara, adalah Wartawan senior Mantan Wasekjen PWI.







