YLKI Minta Pemerintah Jaga Keamanan Pasokan Bahan Pangan Selama Raramadhan

- Pewarta

Jumat, 26 April 2019 - 14:03 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pedagang sayuran melayani calon pembeli di Pasar Tradisional, Cikurubuk, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (5/8). Pasca Lebaran harga komuditas sayuran di Tasikmalaya berangsur turun setelah mengalami kenaikan saat Lebaran. Cabe merah dari harga  Rp 25.000 manjadi Rp 20.000 per kilogram, bawang merah Rp 25.000 menjadi Rp 20.000 per kilogram, tomat Rp 10.000 menjadi Rp 6.000 per kilogram. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ss/mes/14

Pedagang sayuran melayani calon pembeli di Pasar Tradisional, Cikurubuk, Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (5/8). Pasca Lebaran harga komuditas sayuran di Tasikmalaya berangsur turun setelah mengalami kenaikan saat Lebaran. Cabe merah dari harga Rp 25.000 manjadi Rp 20.000 per kilogram, bawang merah Rp 25.000 menjadi Rp 20.000 per kilogram, tomat Rp 10.000 menjadi Rp 6.000 per kilogram. ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/ss/mes/14

Opiniindonesia.com – Dalam seminggu ke depan, masyarakat Indonesia akan memasuki bulan puasa Ramadhan. Lazimnya, selama bulan puasa dan juga saat Hari Raya Idul Fitri, akan terjadi lonjakan permintaan bahan pangan (sekitar 20-30 persen), baik bahan pangan segar dan atau olahan. Oleh karena itu, YLKI meminta pemerintah untuk:

1. Pemerintah, dalam hal ini Kemendag, Kementan dan Bulog harus mampu meyakinkan pasar (publik), bahwa pasokan bahan pangan dalam keadaan cukup, sampai Hari Lebaran. Termasuk untuk mengantisipasi lonjakan permintaan bahan pangan.

2. Pemerintah harus mampu menjaga melancarkan arus distribusi barang, sehingga tidak terjadi lonjakan harga yang tidak wajar, akibat gangguan distribusi.

3. Kemendag harus mampu mengendalikan pelaku pasar besar, agar tidak menjadikan momen bulan puasa untuk mengeksploitasi konsumen dengan kenaikan harga yang ugal-ugalan. Oleh karenanya, kontrol pasar secara ketat termasuk menjaga kelancaran arus distribusi barang berlontribusi signifikan terhadap harga.

4. Jika pemerintah akan melakukan operasi pasar untuk menurunkan harga, maka sasarannya harus jelas dan terukur. Ukurannya bukan seberapa banyak komoditas yang dilepas ke pasar, tetapi seberapa banyak masyarakat rentan yang akan terdampak dari operasi pasar tersebut. Operasi pasar jangan hanya menjadi proyek saja.

5. YLKI juga mendorong Badan POM dan juga Dinkes untuk meningkatkan pengawasan paska pasar, guna memberikan jaminan bahwa selama bulan puasa komoditas bahan pangan yang beredar adalah bahan pangan yang aman, seperti tidak terkontaminasi bahan-bahan berbahaya, dan bukan komoditas yang kadaluwarsa, atau bahkan mendekati kadaluwarsa. Harus diwaspadai adanya perilaku nakal pelaku usaha, yang melepas barang rusak/kadaluwarsa ke pasaran, karena memanfaatkan momen melonjaknya permintaan terhadap komoditas pangan.

6. YLKI juga menghimbau masyarakat konsumen agar menjaga konsumsi secara wajar, jangan melebihi kebutuhan harian yang terlalu tinggi. Sebab perilaku konsumsi yang demikian akan mengakibatkan adanya distorsi pasar, seperti kelangkaan dan kemudian memicu kenaikan harga secara tidak wajar. YLKI juga mendorong masyarakat melakukan pengawasan di lapangan untuk memonitor pelaku usaha yang nakal dan melakukan pelanggaran. Pelanggaran tersebut harus segera dilaporkan ke kanal-kanal pengaduan yang tersedia, seperti Kemendag, Dinas Perdagangan, Balai POM, dll.

Demikian. Terima kasih.

Wassalam.

Oleh : Tulus Abadi, adalah Ketua Pengurus Harian YLKI.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru