Kebersamaan & Persatuan dalam Peringatan Hari Petani Indonesia

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 13 September 2020 - 05:41 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

24 September Meripakanperingatan Hari Petani Indonesia. (Foto : fin.co.id)

24 September Meripakanperingatan Hari Petani Indonesia. (Foto : fin.co.id)

Opiniindonesia.com – Ada semacam kehendak dari kaum buruh, nelayan serta mahasiswa dan kaum pergerakan untuk ikut merayakan hari Petani Indonesia pada 24 September 2020. Meski semua itu baru wacana sifatnya, namun fenomena ini menunjukkan adanya kesadaran baru bahwa untuk membangun bangsa dan negara itu yidak bisa dilakukan sendiri. Disamping itu kaum petani sesungguhnya bagi bangsa Indonesia merupakan salah satu soko guru bangsa.

Jika saja petani tebu bisa berjaya dengan hasil tanamannya, tentu Indonesia tidak perlu mengimpor berjuta-juta ton gula untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Demikian juga untuk beras, kacang kedela, jagung, panili, cengkeh, kopi hingga daging termasuk telur dan garam serta sayur mayur yang mampu dipenuhi oleh petani kita, tak perlu lagi didatanglan dari negeri orang.

Begitu juga dengam hasil laut kita yang bisa dimaksimalkan hingga tidak lagi tergantung impor dari negara lain. Bahkan, singkong (tapioka) sampai buah-buahan seperti pisang, jeruk, dawo dan alfukat hingga sakak pondoh, bisa lebih dimaksimalkan lagi untuk untuk menjadi ragam ekspor yang bisa mendatangkan banyak keuntungan. Karena itu sudah saatnya sekarang Indonesia berhemat pada hasil tambang untuk menjaga ketahanan serta pertahanan untuk kebutuhan masa depan anak cucu kita.

Titik terang kesadaran kaum huruh dan nelayan serta kaum pergerakan dan mahasiswa untuk mensupport habis kaum petani agar dapat kembali berjaya seperti pada masa sebelum kenerdekaan Indonesia sehingga bangsa asing berbondong-bondong datang ke nusantara untuk mengeruk rempah-rempah, pasti dapat untuk dijadikan acuan dan pelajaran, bahwa perani Indonesia pernah jadi primadona warga dunia.

Kebersamaan kaum buruh, nelayan serta kaum pergerakan dan mahasiswa menjadikan hari petani nasional sebagai titik balik dari perjalanan sejarah yang salah, memang harus segera dimulai dan dibenahi dengan semangat kebersamasn dan gotong royong, saling bahu membahu seperti yang diisyaratkan oleh Pancasila sebagai tuntunan hidup berbangsa dan bernegara secara nyata. Tidak kamuflase dan asal-asalan, hingga gampang didikte oleh bangsa asing.

Kedaulatan rakyat adalah kedaulatan petani atas lahan dan pangan serta seluruh hasil bumi Ibu Pertiwi. Oleh karena itu pilihan yang bijak dan tepat untuk menjadikan hari petani sebagai mementum kebangkitan demi dan untuk kemakmuran bersama agar mampu menghadapi ragan masalah bangsa dan negara yang tengah berada dalam kondisi krisis yang gawat. Mulai dari krisis ekonomi, krisis politik dan krisis hukum hingga krisis budaya dan moral semakin diperparan oleh terpaan pandemi covid-19 yang sulit untuk diatasi dan todak dapat dipastikan kapan akan berakhir.

Fenomena dari kesadaran kaum buruh, tani dan nelayan serta kaum pergerakan dan mahasiswa mau bergandeng tangan jelas merupakan kesadaran baru yang memberi harapan, bahwa semua apa yang hendak dilakukan pasti bisa. Sebab kesadaran kita tidak sendiri merupakan daya dorong yang maha dakhsyat untuk melakukan perubahan guna melakukan perbaikan menuju kemajuan dalam arti luas. Juga termasuk tingkat kesejahteraan yang berkeadilan dan kepribadian dalam budaya yang khas dan bermartabat.

Dukungan kaum buruh, nelayan
dan mahasiswa bersama segenap kaum pergerakan untuk dan demi mengukuhkan posisi kaum petani sebagai salah satu soko guru bangsa dan menjadi garda terdepan dalam membangun pertahanan dan ketahanan pangan bangsa Indonesia yang sedang terancam oleh bencana kelaparan harus bisa diantisipasi secara bersama.

Momentum peringatan hari petani Indonesia pada 24 September 2020, dapat mengawali sikap solidaritas, kebersamaan dan bergotong royong sebagai bentuk implementasi nyata dari prngamalan kita dati falsafah hidup bangsa Indonesia, yaitu Pancasila. Bagi kaum buruh bisa saja berdiri di belakang bersama kaum nelayan untuk dipimpin oleh kaum petani, maski masing elemen bisa saja meneriakkan penolakannya terhadap RUU Omnibus Law yang bisa mengerdilkan kehidupan kaum buruh. Demikian juga mahasiswa, bagus juga ikut menyuarakan kerunyaman dunia pendidikan akibat dilantak pandemi covid-19 yang tak kunjung rampung diatasi, sehingga kuliah, belajar harus dilajukan dari rumah.

Keresahahan kaum pergerakan pun yang dijebak oleh amandemen UUD 1945 pantas disuarakan lebih keras dan lantang sambil terus melakukan sosialisasi agar dapat menjadi perhatian umum srcara lebih meluad. Sebab apa yang selama ini diteriakkan memang belum pernah mendapat sambutan yang serius, meski gugatan secara hukum pun sudah dilakukan kawan-kawan melalui pengadilan negeri Jakarta Pusat.

Momentum kebangkitan petani yang mulai didukung sepenuhnya oleh kaum buruh, nelayan dan mahasiswa serta kaum pergerakan ini tidak mustahil dapat melahirkan tatanan budaya baru dalam berbangsa dan bernegara kita untuk lebih baik dan lebih beradab. Sangat mungkin dari titik kesadaran yang baru ini juga awal kebersamaan seperti yang tersirat pada sila-sila Pancasila itu, yakni Persatuan Indonesis pun bisa lebih nyata terwujud.

Oleh : Jacob Ereste, Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Federasi Bank, Keuangan dan Niaga (F.BKN) K.SBSI.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru