Opiniindonesia.com – Cuaca siang ini, agak mendung. Saya buru-buru jalan buat kulakan barang dagangan. Khawatir kehujanan di jalan.
Di tempat kulakan agen, saya bertemu teman lama. Sudah berapa bulan nggak ketemu dia. Setelah bertegur sapa, saya izin ke dia mau transaksi di bagian kasir. Agar pesanan barang dagangan segera dilayanin.
Selesai transaksi, saya temui temanku itu di tempat duduk.
Dalam obrolan itu, dia bilang, “Leh, di daerah kamu bagus tuh jualan telor ayam negeri. Di jembatan jalan tol itu loh.”
“Sudah ada yang jualan di sebelah kanannya.” Kata saya.
“Ya nggak apa. Tinggal diturunin aja harganya Rp 500,- atau Rp 1000,-. Pasti orang pada datang.” Kata dia.
“Anak saya masih sekolah, dan keponakan nggak ada yang mau diajak jualan di situ, leh. Padahal itu tempat bagus.” Tambahnya.
Saya sama sekali tidak tertarik dengan tawaran temenku itu. Walaupun dia bilang bagus dan menguntungkan buat usaha, tapi kalo caranya ngancurin usaha orang lain. Saya nggak mau.
Dampaknya nggak baik. Kita jadi perang harga sesama pedagang. Saling menghancurkan. Bakal musuhan, saling dendam. Nggak mau saya.
Baca Juga:
Hikvision Hadirkan Guanlan Encoding, Teknologi AI yang Pangkas Biaya Penyimpanan Video hingga 50%
SK Innovation E&S Memimpin Inovasi dalam Ekosistem Startup untuk Pemuda di Indonesia
Dagang jadi nggak karuan.
Dagang itu bukan hanya masalah untung. Tapi juga harus punya etika.
Lebih baik saling menjaga, saling berbagi dan saling menebar kebaikan antar sesama pedagang. Bukan malah sebaliknya.
Oleh : Ahmad Sholeh, Pedagang Sembako.
Baca Juga:
CGTN: 75 Tahun Xizang: Harmoni Pembangunan dan Pelestarian Budaya Ciptakan “Keajaiban di Atap Dunia”
ZTE Rilis Laporan Keberlanjutan 2025, Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat AI






