Ada Saatnya Buzzer dan Influencer Tidak akan Mempengaruhi Politik

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 16 November 2020 - 11:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Influencer adalah suatu bentuk pemasaran media sosial yang melibatkan dukungan dan penempatan produk dari influencer.(Foto: hallaminternet.com)

Influencer adalah suatu bentuk pemasaran media sosial yang melibatkan dukungan dan penempatan produk dari influencer.(Foto: hallaminternet.com)

Opiniindonesia.com – Buzzer dan influencer itu bagian dari budaya masa depan. Suka atau tidak suka setidaknya dia harus dialami terlebih dahulu, terlepas dari kita mau atau tidak menjadi buzzer dan influencer itu, tapi kita harus melewati zamannya

Boleh jadi pada saatnya nanti dia tidak lagi diperlukan atau bahkan tak lagi punya nilai jual. Lantaran setiap sudah bisa melakukan sendiri atau memahami sebagai hal yang tidak diperlukan.

Setidaknya, kelak setiap orang sudah mengerti dan memahami bahwa apapun yang dikatakan dan dilakukan para buzzer dan influencer itu tak lagi ada gunanya, sebab apapun sara yang mereka lakukan sudah bisa diabaikan. Atau tak bisa memberi pengaruh aps-apa pada sikap maupun pendapat kita.

Karena pada akhirnya buzzer dan influencer itu tidak lagi bisa mempengaruhi atau sekedar menggoyahkan sikap dan pendirian kita.

Artinya, pada level ini semua orang semakin tinggi dan luas pemahaman dan pengetahuannya ikhwal buzzer dan influencer itu sendiri untuk dianggap atau tidak apa yang dikatakan maupun apa dilakukannya untuk mempengaruhi atau menyesatkan pemahaman maupun sikap kita.

Begitulah keberadaan buzzer dan influencer itu sesungguhnya. Pada saatbta dia akan ditinggalkan semya orang. Dan semua orang tak lagi merasa perlu perduli atau hirau pada apa yang dikatakan maupun apa yang dilakukannya.

Saya yakin begitulah proses kesadaran dan pemahaman kita, semakin matang dan semakin dewasa dalam pengertian budaya. Bukan dalam pengertian usia. Sebab peradaban manusia tidak mungkin berjalan mundur ke masa silam.

Itulah sebabnya dalam bahasa filsafat seorang penyair, tak ada istilah pulang. Sevab dia harus terus berjalan hingga jalan itu sebdiri yang menghentikan langkahnya.

Jika dalam bahasa heroik seorang pahlawan, tak boleh ada kata ucap menyerah, meski pada akhirnya harus kalah.

Oleh : Jacob Ereste, Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan dan Pengembangan Federasi Bank, Keuangan dan Niaga (F.BKN) K.SBSI.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru