KALAU GEGAP gempita kampanye Prabowo-Sandi diterjemahkan ke pilpres 2019, tidak disangsikan lagi Jokowi akan selesai. Di mana-mana Prabowo-Sandi datang menemui rakyat, suasananya selalu meriah. Dan natural. Rakyat tumpah-ruah ke pasar, pesantren, auditorium, masjid, tanah lapang, di jalan-jalan, dlsb, untuk menyambut mereka. Tanpa rekayasa.
Para diplomat asing di Jakarta, kata seorang aktivis yang banyak bergaul dengan mereka, berpendapat Jokowi tinggal menunggu hari H pilpres saja. “Dia sudah selesai,” ujar seorang mantan aktivis mahasiswa pada 1970-an menirukan perkiraan para diplomat itu.
https://opiniindonesia.com/2018/12/02/prabowo-subianto-akhirnya-menjadi-new-hope-rakyat-indonesia/
Tapi, masih mungkinkah Jokowi menang?
Tergantung strategi mereka. Jokowi masih bisa menang kalau dia mau melakukan tindakan yang akan saya uraikan pada akhir tulisan ini.
Namun, kalau cara kerja Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowo-Ma’ruf Amin (Ko-Ruf) tetap seperti sekaramg, berat bagi Jokowi untuk menang. Kecil kemungkinannya. Kecuali mereka telah menyiapkan skenario pencurangan. Itu lain lagi.
Saya ’gregetan’ rasanya. Tak sabar untuk membeberkan rahasia mengalahkan Prabowo di Pilpres 2019.
Kalau strategi mereka masih terfokus pada upaya menjelek-jelekkan pribadi Prabowo, termasuk soal pelanggaran HAM di masa lalu, rakyat sudah tidak perduli lagi. Misalnya Cawapres Ma’ruf menyindir bahwa Jokowi tak pernah menculik dan membunuh orang. Cara ini malah mengundang simpati rakyat untuk Prabowo-Sandi. Sebab, isu ini sudah bolak-balik digoreng. Rakyat bosan. Intinya, tak mempan.
Tapi, sangat mengherankan mengapa TKN Ko-Ruf dan para menteri senior Jokowi, termasuk Wiranto, masih terus memainkan ini. Konyol sekali. Ridiculous. Atau ‘stupid’, kalau mau dinaikkan setingkat lagi.
Baca Juga:
Praktik Integrasi “Eco+” Ningbo Ditampilkan dalam Forum SCO
Produk Guangdong Mendunia: Acara “Produk Zhongshan di Malaysia” Resmi Debut di Luar Negeri
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya




