KPU dan Bawaslu, Kepada Manusia Kalian Bisa Sembunyi

- Pewarta

Kamis, 25 April 2019 - 15:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Siapa pun kalian, apa pun yang kalian lakukan. Kepada manusia kalian bisa bersembunyi. Kepada manusia kalian bisa berbohong. Kepada manusia kalian bisa menipu. Tapi, kepada Allah, kalian pasti tidak bisa apa pun.

Balasan Allah atas kejahatan (kecurangan) itu jelas. Jika tidak sekarang, esok, lusa, minggu depan, bulan bahkan tahun depan balasan itu pasti datang. Jika tidak di dunia, kelak di akhirat. Dan jika balasan itu datang, maka sesal tiada berguna.

Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan. Pada suatu hari yang besar. (Yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam (QS. al-Muthaffifîn/83:1-6)

KPU dan Bawaslu tak ubahnya

seperti orang-orang yang digambarkan dalam surat Quran, al-Muthaffifin. Di tangan merekalah timbangan pemilu digenggam. Sebagai sesama manusia, saya berharap para komisioner KPU dan Bawaslu bukanlah termasuk orang-orang yang akan mencelakakan diri mereka dan orang lain.

Tenang Saja

Tanpa harus menuduh, saya dan kita semua, menyaksikan setiap detik di medsos.
Sesungguhnya telah terjadi sesuatu dalam pemilu kita kali ini. Tidak sedikit tokoh yang menyebut, inilah pemilu paling brutal kecurangannya. Pemilu paling primitif. Semua kasat mata, dari yang paling canggih mengutak-atik data hingga yang paling primitif, mencoblos yang bukan haknya dan memasukkan ke kotak sendiri.

Namun, hingga hari ke-9 paska pemilu, KPU dan Bawaslu, kelihatan tetap tenang-tenang saja. Mereka seolah tidak melihat adanya penyimpangan apa pun dalam pemilu serentak ini. Bahkan Arief Budiman, Ketua KPU tak segan menyalahkan medsos. “Kesalahan input hanya 24, menjadi ramai karena digoreng medsos. Itu kan human error,” katanya seperti dapat disimak di media-media online dan televisi.

Hal ini senada dengan pernyataannya tentang puluhsn ribu kertas suara di coblos oleh yang tak bergak di Malaysia. “Itu hal yang biasa saja!” katanya. Sungguh luar biasa.

Ucapannya itu jelas berbeda dengan fakta di lapangan. Medsos menurunkan berbagai keanehan. Ada laporan (foto) C-1, paslon 01 memperoleh angka 78 dan paslon 02 menperoleh 172. Tapi, begitu dicek didaftar inputan KPU, hasilnya tertulis 01= 78 dan 02= 72. Angka 1 di depan 72, lenyap.

Ini bukan satu-satunya kesalahan input. Namun berulang dan berulang lagi. Jumlahnya luar biasa. Hal ini tentu membuat kehebohan yang luar biasa di masyarakat, jika dibiarkan, masyarakat akan mencari caranya sendiri untuk menegakkan keadilan.

Ada lagi bukti, dari salah satu TPS di Bali, seperti menjadi judul Vivanews, Selasa (23/4) jam 17.09. Suara Jokowi dari 83 melonjak ke 1883. Padahal setiap TPS maksimal 300 suara. Artinya ini patut dapat diduga bukan kesalahan input. Saya tidak ingin menyebut itu disengaja, tapi silahkan anda nilai sendiri.

Dan yang paling sadis, angka-angka quick count dari lembaga-lembaga survei. Sejak awal ditayangkan hingga hari ke-9, angkanya tidak berubah 54-56% untuk paslon 01 dan 45-44% untuk paslon 02. Angka-angka ini nyaris sama persis dengan rilis lembaga-lembaga survey itu jauh sebelum 17 April. Sekali lagi, saya tidak ingin menuduh. Apalagi muncul foto-foto para surveyor sedang makan siang dengan petahana di istana, dan terakhir Burhanuddin Muhtadi serta Yuniarto Wijaya, makan bareng Ustadz Yusuf Mansyur. Terakhir malah orang paling tinggi di Charta Politika ikut kampanye akbar di GBK. Anda nilai sendiri ya.

Kembali ke angka-angka yang stagnan itu. Langsung atau tidak, angka-angka itu jelas seperti sebuah penghinaan terhadap rakyat.

Bayangkan, faktor dukungan 411, 212, dan emak-emak militan, serta rakyat yang ingin perubahan seperti dinafikan. Hebatnya lagi, sejak awal surveyor seperti dukun yang bisa meramalkan angkanya seperti di atas.

Penghinaan-penghinaan ini sungguh berbahaya. Bagaimana mungkin orang yang datang karena terpanggil bahkan memberikan sumbangan bisa dikalahkan dengan orang yang datang untuk menghadiri kampanye karena diberi honor dan nasi kotak. Jelas ini penghinaan terhadap adab kemanusiaan.

Sekali lagi, jika situasi ini dibiarkan, maka rakyat akan mencari jalannya sendiri. Seperti air yang mengalir, jika disumbat, air akan mencari jalannya sendiri. Dan jika itu terjadi, maka gelombang pasang air bah akan menerjang. Hukum alam sejatinya peringatan dari Allah Subhanahu Wa’taala bagi manusia untuk tidak melanggar perintah-Nya.

Oleh : M. Nigara, adalah Wartawan Senior Indonesia.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru