Tiga Nama yang Viral, Mirip Makrun, Zainudin, dan Gus Nur

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 28 Oktober 2020 - 15:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CEO PS Hizbul Wathan, Liga 2 PSSI, Dhimam Abror Djuraid. (Foto: Instagram @abrordjuraid)

CEO PS Hizbul Wathan, Liga 2 PSSI, Dhimam Abror Djuraid. (Foto: Instagram @abrordjuraid)

Ironis memang. Prancis yang melahirkan semboyan kebebasan, keadilan, persaudaraan, liberté, égalité, fraternité, melalui Revolusi 1789 malah memperlakukan warga muslimnya secara diskriminatif.

Konsep kebebasan, keadilan, dan persaudaraan digagas oleh Jean Jaques Rosseau yang menjadi inspirasi utama rakyat Prancis untuk menghancurkan kezaliman penguasa feodal dengan menyerbu penjara Bastille yang menjadi simbol rezim.

Raja Louis XVI lambang feodalisme terakhir dipancung lehernya di bawah guilotine pada 1792 dan lahirlah Republik Prancis.

Revolusi demi kebebasan tidak selamanya melahirkan kebebasan. Prancis malah dikuasai diktator Kaisar Napoleon yang menebar perang di penjuru Eropa dan Afrika sejak berkuasa sepuluh tahun sejak 1804 sampai 1814.

Prancis menjadi republik yang lebih demokratis pasca Napoleon. Tetapi warisan revolusi Prancis yang sekuler membuat negara itu melakukan pemisahan yang sangat keras antara negara dan agama. Semangat revolusi Prancis yang sekuleritis itu menjalar ke seluruh Eropa.

Prancis dan Eropa, kata Ben Saphiro dalam “The Right Side of History” (2020) berada pada sisi sejarah yang salah karena menghilangkan peran agama dalam demokrasi.

Menurut Saphiro revolusi Amerika Serikat 1776 berada pada sisi sejarah yang benar, the right side of history, karena memberi tempat yang tepat terhadap agama.

Deklarasi kemerdekaan Amerika, menurut Saphiro, didasarkan pada dua poros, “Poros Athena” dan “Poros Jerusalem”. Poros Athena, Yunani, adalah poros akal dan rasionalitas, dan Poros Jerusalem adalah poros agama dan iman.

Sampai sekarang, menjelang Pilpres Amerika 3 November, tarik-menarik antara konservatisme agama vs liberalisme-sekuler masih tetap sangat kuat. Konservatisme diwakili oleh kubu inkumben Donald Trump-Mike Pence dari Partai Republik berhadapan dengan penantang Joe Biden-Kamala Harris dari Partai Demokrat yang liberal.

Kemenangan Trump akan diwarnai dengan menguatnya peran agama dalam politik, dan sebaliknya kemenangan Biden akan membawa kebebasan individual lebih besar dan meminimalkan peran agama.

Berita Terkait

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?
Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 13:34 WIB

Ketika Layar TV Membesar, Apa yang Sebenarnya Kita Butuhkan?

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Berita Terbaru