Opiniindonesia.com – Seorang filsuf asal Yunani pernah mengatakan bahwa “keberanian adalah pengertian dalam menghadapi ketakutan dan keyakinan”.
Bangsa kita telah menghadapi banyak maharana yang kemudian memunculkan ketakutan dan bilur. Peperangan zaman kerajaan dan penjajahan telah menjadi bukti sejarah yang valid.
Ketakutan lain yang tak kalah hebat adalah korupsi, bencana alam sampai takut tak bayar hutang. Bangsa kita juga sudah sering menghadapi keyakinan, mulai dari sumpah palapa, sampai Indonesia emas 2045.
Dua hal ini menjadi alasan kuat mengapa tulisan ini hadir. Kenapa demikian? Saat ini keberanian kita sedang diterpa. Ketakuan dan keyakinan menjadi dua sisi dalam satu lambang yang mesti digenggam oleh seluruh tangan-tangan manusia.
Sebab Covid 19 telah menampakan anggara-nya. Ia menyusupkan ketakuan dan keyakinan dalam setiap benak manusia, dalam benak seluruh penduduk bangsa Indonesia.
Naif rasanya jika kita tidak peduli, atau menyangkal akan kondisi ini. Jutaan telah terinfeksi (+/-15 Juta) dan ratusan ribu jiwa telah tiada.
Resesi ekonomi dan lumpuhnya kehidupan sosial terjadi setelahnya. Begitu cepat, tak terduga dan memusingkan banyak kepala. Ini berlaku bagi semua orang, baik pedagang bakso ataupun pemimpin negara.
Ini juga berlaku bagi seluruh kawasan, baik negara yang disebelah timur, maupun negara yang disebelah barat. Kita, mereka dan semua terpukul dengan makhluk kecil tak kasat mata, yang bahkan tak terdengar sedikit pun suaranya.
Beberapa data dan opini akhir-akhir ini juga banyak yang membuat orang khawatir. Misalnya dalam hal kemiskinan, Bank Dunia memperkirakan akan ada 120 juta orang yang jatuh miskin akibat pandemi covid 19 ini.
Indonesia sendiri diperkirakan akan ada 5,5-8 juta orang yang jatuh miskin. Apabila tidak ada bantuan massif dari pemerintah, lonjakan kemiskinan akan sangat signifikan. Belum lagi, penambahan fasilitas kesehatan dan banyaknya tenaga medis yang gugur membuat semuanya semakin buruk.






