Esai ini akan menjelaskan persatuan seperti apa yang dibutuhkan dimasa pandemi ini. Tentu saja, rincian pembahasannya merujuk pada data sejarah bangsa dan sejarah pandemi dunia yang dapat menjadi wiyata.
Ya, pendemi kali ini bukanlah yang pertama kali, mari kita belajar dari fenomena yang ada sebelumnya.
Pembahasan
Merayakan pandemik melalui sila ke-3, inilah yang mesti disosialisasikan kepada seluruh rakyat Indonesia. Pada tanggal 1 Juni 1945, Soekarno mempertautkan hasrat-hasrat persatuan itu ke dalam kerangka kebangsaan.
Soekarno berulang kali menyebutkan “pembentukan suatu bangsa pertama-tama karena adanya kesamaan riwayat (nasib) dan kehendak untuk bersatu”.
Dalam hal ini, persatuan tidak hanya mengikat pada bangsa kita sendiri, tapi juga memperluas mengatur pertaliannya dengan negara lain. Inilah yang disebut dengan “E’tat nation, nationale staat, negara kebangsaan”, yang mensyaratkan “kedaulatan ke dalam dan kedaulatan ke luar”. Inilah yang disinggung secara eksplisit oleh Muhammad Yamin.
Persatuan Indonesia adalah bentuk persatuan yang sistematis antara rakyat, filantropi, parlemen, dan pemerintah eksekutif. Keberanian dan persatuan dalam menghadapi pandemic covid 19 memang harus terstruktur dan mengikat satu sama lain.
Rakyat sebagai elemen dasar bangsa dan sebagai penguasa terbesar negara tidak boleh menyerah dan berpangku tangan begitu saja. Rakyat harus saling menguatkan antar rakyat, harus menguatkan tenaga medis, harus menguatkan pemerintah, dan harus menjadi pelopor dalam membantu sesama dan negara.
Persatuan antar rakyat ini akan memberi stimulus positif kepada oknum-oknum yang masih meremehkan covid 19. Misalnya, bila kita berkaca pada Jerman yang cukup sukses menghadapi covid 19 dibandingkan negara-negara Eropa lain yang salah satu faktornya adalah berhasil memisahkan orang sakit/terinfeksi, pasien tanpa gejala dan populasi penduduk sehat. Tanpa ada persatuan dari rakyat Jerman, hal tersebut sangat sulit dilakukan.
Pada tahun 1918, Dunia juga pernah mengalami pandemi akibat wabah flu spanyol yang disebabkan virus H1N1. Saat itu, sekitar 500 juta orang terinfeksi (sepertiga penduduk dunia) dan menewaskan 50 juta orang.
Wabah ini disebut sebagai pandemi paling mematikan abad 20. Kondisinya pun sama, saat itu belum ada vaksin untuk melindungi dari infeksi virus.






