Pak Sutopo dan Pelajaran Humas Era Digital

- Pewarta

Senin, 8 Juli 2019 - 10:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opiniindonesia.com – Selamat jalan Pak Sutopo Purwo Nugroho.

Sosok alharhum Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini patut menjadi pelajaran. Sekalipun mengidap penyakit kanker paru-paru, ia tetap loyal dan berdedikasi dalam menjalankan fungsi hubungan masyarakat. Humas, sebuah cara dalam mengelola komunikasi antar organisasi dengan publiknya.

Di balik sosok Sutopo pula, cara pandang banyak orang tentang figur humas berubah. Humas yang dulu dikenal sosok yang parlente, necis, bahkan sedikit glamour kini berubah. Humas tidak harus ganteng atau cantik. Di balik penampilan Sutopo, fungsi humas “kembali ke khittah” untuk menyajikan informasi dan komunikasi yang lugas dan tidak multitafsir.

Dedikasi Sutopo dalam melayani dan meladeni informasi tentang bencana di Indonesia patut diacungi jempol. Informasi (saya tidak menyebut data) disajikan begitu cepat, akurat, dan lugas. Apalagi di era digital sekarang, informasi yang cepat sangat penting untuk menghindari hoaks. Informasi akurat pun dibutuhkan agar tiap ingormasi tidak salah dan tidak multitafsir. Dan lugas hanya bertumpu pada pokok-pokok informasi yang perlu saja, bersifat seperti apa adanya, tidak berbelit-belit, dan objektif. Bahkan di tengah sakitnya, Sutopo seolah berjuang untuk sebuah kebenaran informasi dengan gaya komunikasi yang natural dan sederhana.

Figur Sutopo, sungguh telah memberikan pelajaran baru tentang humas di era digital, pelajaran tentang cara menyajikan informasi dan komunikasi di tengah kesemrawutan informasi itu sendiri.

Berangkat dari pengalaman dan praktik. Bahkan Bahkan di tengah pertarungan nama baik seperti sekarang, hubungan masyarakat (humas) atau public relations bolehlah didefinisikan sebagai seni mengelola informasi dan pengertian yang lebih baik sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu organisasi. Buat saya itu sah-sah saja.

Tapi bagaimana cara bisa mengelola pengertian publik di tengah era kebencian atau kegalauan seperti sekarang?

Maka, saya katakan. Humas itu bukan pengetahuan. Humas pun bukan pelajaran. Lebih dari itu, humas adalah sebuah sikap dan perilaku dalam memberikan informasi kepada publik melalui cara komunikasi yang efektif. Humas pun asal menyajikan data.

Karena ingat, data itu fakta mentah yang tidak punya arti. Sementara informasi itu fakta yang sudah diolah dan memiliki arti. Itu saja prinsip humas, persis seperti yang dipraktikkan Pak Sutopo.

Sementara banyak humas lelet dan sering tidak menghargai waktu, justru Sutopo mengubah “image” itu semua. Di tangannya, humas harus cepat, akurat, dan lugas. Maka untuk mengukur bagus atau tidaknya humas sangat sederhana. Karena humas adalah kinerja + reputasi + promosi. Artinya, humas harus bekerja atas dasar “kinerja” alias prestasi kerja sehingga membentuk reputasi yang pantas dipromosikan.

Harus diingat dalam humas, tidak ada reputasi baik yang dihasilkan dari kinerja buruk. Reputasi baik hanya dimiliki orang yang berkinerja baik dan dilakukan berulang secara konsisten. Maka dari reputasi itulah akan ada sebutan tentang “citra” atau “image”. Citra baik hanya lahir dari pemilik reputasi baik. Reputasi baik pun sama sekali tidak bisa direkayasa. Mau dikemas sebagus apapun, reputasi akan bicara seperti aslinya. Humas bukan bilang bisa padahal tidak bisa.

Di balik kepergian Pak Sutopo, ada pelajaran humas yang berharga di negeri ini. Bahwa siapapun dan organisasi apapun, sama sekali tidak perlu bilang orang lain jelek dan kita bagus. Karena yang bagus pasti bagus fan yang jelek pasti jelek. Dan untuk itu, humas akan membuktikannya. Maka fokuslah untuk menghasilkan kinerja bagus bukan berkata-kata bagus.

Lagi pula humas sama sekali tidak bisa didekati secara akademis. Apalagi teoretik dan penampilan fisik. Karena humas adalah pekerjaan lapangan, sesuatu yang harus terjun langsung. Selain butuh sikap, humas adalah perilaku, perbuatan nyata seeprti yang dilalukan Pak Sutopo.

Sekali lagi, pelajaran humas dari Pak Sutopo.

Bertanyalah kepada diri sendiri. Bila banyak bagusnya maka kita sudah mampu menjadi humas yang baik. Bila banyak orang bicara jeleknya maka kita belum berhasil menjadi humas buat diri sendiri.

Jadi humas, adalah kinerja yang tetap pada diri sendiri bukan seberapa jago menunjuk orang lain. Selamat jalan Pak Sutopo.

Oleh: Syarifudin Yunus. Penulis adalah Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Unindra.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru