Jadi sepertinya The Banker memberikan penghargaan bagi Sri Mulyani karena berani melakukan pemotongan anggaran (austerity policy) untuk mitigasi dan penanganan bencana di Indonesia. Seeprti diketahui, austerity policy adalah kebijakan memotong berbagai anggaran untuk kepentingan publik dengan mencadangkan (tidak menyentuh) anggaran untuk pembayaran cicilan dan bunga utang- yang tentu sangat disukai oleh The Banker.
Dan yang paling penting tentunya, tapi The Banker mungkin lupa untuk sebutkan, di tahun 2018 Sri Mulyani kembali menarik utang sebesar Rp 15,2 triliun dari Bank Dunia -mitra dari The Banker- untuk rekonstruksi pasca bencana di Lombok dan Palu.
Kita lanjutkan kepada paparan berikutnya dari The Banker sebagai alasannya memberi penghargaan kepada Sri Mulyani sebagai menteri keuangan terbaik se-Dunia dan Asia Pasifik. “Sembari menghadapi tragedi, Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang impresif. Defisit PDB untuk 2018 diproyeksikan akan sebesar 1,86%, lebih kecil dari angka yang diperkirakan di APBN 2018 sebesar 2,19%.”
Sebenarnya pertumbuhan ekonomi 5,1% untuk Indonesia tidaklah impresif, karena negara ini sangat berpotensi untuk tumbuh lebih tinggi lagi bahkan hingga double digit. Dengan pertumbuhan PDB hanya 5,1%, Indonesia hanya menduduki peringkat ke-35 di antara negara-negara Dunia.
Defisit APBN bisa lebih kecil dari target tentu karena berbagai kebijakan austerity yang dilakukan Sri Mulyani, dan juga yang paling penting adalah bertambahnya penerimaan negara karena “durian runtuh” kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan kurs Rupiah terhadap Dollar AS.
Di sisi lain, defisit yang lebih berbahaya untuk kestabilan makroekonomi, defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tahun 2018 malah terus membesar hingga 3,37% dari PDB (batas aman sebenarnya di bawah 3% PDB).
Di antara negara-negara tetangga di ASEAN, defisit transaksi berjalan Indonesia adalah yang terbesar- sehingga menjadi negara yang paling rentan kondisi makroekonominya bila badai krisis kembali menerjang.
Dari seluruh negara ASEAN, semuanya mengalami surplus transaksi berjalan, kecuali Filipina dan Indonesia yang defisit. Semoga dengan memuji makro ekonomi Indonesia di bawah Sri Mulyani, The Banker tidak sedang menina-bobokan kita semua agar bila terjadi krisis nanti Indonesia-lah yang paling hancur dan akhirnya membutuhkan bantuan keuangan dari “sekondan” The Banker: IMF.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





