Dalam penutup paparannya, The Banker memuji serangkaian kebijakan perpajakan yang diterapkan Sri Mulyani di 2018. Tidak perlu saya kutip lagi karena terlalu panjang dan berbunga-bunga, pembaca dapat melihatnya sendiri di website resmi.
Yang terpenting, apapun pujian dari The Banker, faktanya penerimaan pajak dibandingkan terhadap PDB atau tax ratio (dalam arti sempit, minus PNBP) Indonesia di bawah Sri Mulyani terus menurun. Menurut INDEF, tahun 2016 tax ratio masih di 10,4%, dan tahun 2017 turun ke 9,9%.
Kemudian, tahun 2019 (berdasarkan perhitungan saya) tax ratio kembali turun ke 9,2%. Besaran tax ratio Indonesia yang masih di kisaran ini sangat jauh di bawah dari standar tax ratio negara-negara maju, OECD, yang sebesar 34,2% (2017).
Aneh sekali, semua poin pujian yang tertulis dalam paparan The Banker sebagai landasan pemberian penghargaan kepada Sri Mulyani, seperti tidak sesuai dengan realitas situasi Indonesia.
Kemudian bila saya analisa lebih dalam lagi, dengan melihat pemaparan dari The Banker dalam pemberian penghargaan kepada para menteri keuangan di berbagai negara selama tiga tahun ke belakang, ditemukan benang merah dari realitas di baliknya:
1) Menerbitkan surat utang dengan yield tinggi.
Yield surat utang Indonesia (tenor 10 tahun) di bawah Sri Mulyani saat ini sebesar 8,08%. Yield surat utang India (tenor 10 tahun) di bawah Menteri Keuangan India Arun Jaitley -yang menerima penghargaan yang sama tahun 2018- adalah sebesar 7,4%.
Dan yield surat utang Argentina (tenor 10 tahun) di bawah Menteri Keuangan Argentina Alfonso Prat-Gay -yang menerima penghargaan yang sama tahun 2017- adalah sebesar 7,5%. Kita tahu semakin tinggi yield, maka semakin tinggi keuntungan para investor pasar keuangan mitra The Banker.
2) Berhutang dalam jumlah besar ke pasar atau grup IMF-Bank Dunia.
Total surat utang yang diterbitkan Sri Mulyani sepanjang 2018 adalah sebesar USD 28,4 miliar. Menkeu Argentina Alfonso Prat-Gay dipuji The Banker karena berhasil memperbaiki hubungan dengan vulture fund (setelah masalah renegosiasi utang Kirchner tahun 2002) dan menerbitkan surat utang USD 16,5 miliar tahun 2016.
Menteri Keuangan Sri Lanka Ravi Karunanayake -Menteri keuangan Terbaik tahun 2017 se-Asia Pasifik versi The Banker- “sukses” menarik utang dari IMF sebesar USD 1,5 miliar dan menerbitkan surat utang ke pasar sebesar USD 6,6 miliar.
Baca Juga:
Dua Alumni Peking University Raih “Fields Medal”, Sebanyak 14 Akademisi PKU Tampil di ICM 2026
Pizza Hut Indonesia dan TUKR Rayakan 10 Tahun Pizza Maker Junior Ajak Anak Peduli Lingkungan
3) Menerapkan kebijakan Austerity policy
Sri Mulyani, Alfonso Prat-Gay, Arun Jaitley, dan Ravi Karunanayake menerapkan kebijakan ini dalam kebijakan fiskal di negaranya. (*)
[Oleh : Gede Sandra. Penulis adalah analis ekonomi]
(*) Untuk membaca tulisan Gede Sandra yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI
Baca Juga:
InfiMotion Technology Tampil Perdana ke Publik, Pamerkan Kapabilitas Lengkap E-Drive di Wuxi
Pemenang Stevie® Awards for Technology Excellence Tahunan Ketiga Diumumkan






