Lain lagi ketika Jokowi berkunjung ke sebuah pesantren di Jawa Tengah para santri terlihat bergembira ria mengacungkan salam dua jari. Bahkan seorang emak-emak berani secara terbuka bertanya kepada Jokowi. “Berbeda pilihan boleh ya Pak?” ujarnya sambil mengacungkan salam dua jari.
Ada fenomena apa ini? Keberanian rakyat mengacungkan salam dua jari di hadapan Jokowi, menandakan telah ada perlawanan massal rakyat yang dilakukan secara terbuka dan damai. Saya menyimpulkan, inilah tanda-tanda rakyat berbalik arah dukungan mereka kepada Prabowo-Sandi karena tidak mempercayai lagi Jokowi.
Menyetujui Hersubenu Arief dalam tulisannya ‘Perlawanan Massal Salam Dua Jari’, fakta ini menyadarkan bahwa telah terjadi metamorfosa yang sangat cepat. Ada aksi pembangkangan rakyat atau social disobedience terhadap Jokowi. Social disobedience terjadi karena social distrust atau pemimpin tidak lagi dipercaya dan social disorder atau penegak hukum yang tidak adil dan aparat Negara yang memihak penguasa.
Awalnya memang hanya berupa permainan “uji nyali salam dua jari bersama Jokowi”, menjadi ‘Gerakan Perlawanan Salam Dua Jari’ atau istilah kerennya social disobedience movement.
Karena itulah, muncul fenomena rakyat ingin #2019GantiPresiden. Rakyat menagih janji pemerintahan Jokowi yang sebanyak 66 janji yang belum dipenuhi sepanjang empat tahun memerintah.
Rakyat merasakan harga-harga kebutuhan pokok mahal, harga listrik dan BBM naik, sementara sulit mencari pekerjaan. Di sisi lain, impor bahan pangan masih banyak terjadi pada saat petani panen raya, yang justru makin mencekik kehidupan petani.
Dan di Ponorogo adalah bentuk perlawanan terbesar. Jika menilik sejarahnya, Ponorogo di Jatim, termasuk kawasan Mataraman. Kawasan Mataraman ini terdiri dari daerah Ngawi, Madiun, Blitar, Ponorogo, Magetan dan Kediri, yang secara tradisional kawasan tersebut dikuasai oleh PDIP.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





