Di Ponorogo juga ada Pondok Pesantren Gontor, namun pada Pilpres dan Pileg 2014, partai-partai nasionalis masih mendominasi perolehan suara di Ponorogo. Bahkan, bupati Ponorogo juga berasal dari Nasdem. Jadi bisa dikatakan inilah kandangnya Jokowi.
Lantas mengapa rakyat Ponorogo berbondong-bondong mengalihkan dukungan? Saya melihatnya mungkin rakyat Ponorogo kecewa terhadap program Jokowi. Di Ponorogo, sudah menjadi rahasia umum jika pada bulan Maret 2015 Jokowi sempat berjanji membagi-bagikan ribuan traktor untuk petani di Ponorogo.
Sedianya ada 41 ribu traktor yang akan dibagikan, tetapi petani Ponorogo hanya kebagian 3.000 traktor. Itu pun hanya sekadar janji, karena ribuan traktor yang dipajang sepanjang jalan hilang bersama dengan kepergian Jokowi. Nama Jokowi menjadi melegenda di Ponorogo sebagai presiden pembawa traktor tersingkat. Kebijakan Jokowi bagi rakyat Ponorogo hanya pencitraan belaka.
Tidak mengherankan jika banyak janji yang diucapkan Jokowi langsung kepada rakyat yang tidak terpenuhi, membuat rakyat beralih.
Jokowi akhirnya menghadapi perlawanan rakyat yang tidak lagi mendukungnya, tetapi beralih mendukung capres-cawapres nomor urut 02.
Setelah Jokowi melawan ‘bangku kosong’ karena acara-acara yang dihadiri Jokowi selalu sepi pendukung, di awal tahun 2019 ini Jokowi melawan ‘salam dua jari’ dari rakyat sebagai bentuk perlawanan mereka untuk tidak mendukungnya lagi.
Inilah tanda kita akan punya presiden baru. (*)
[Oleh : Sudaryono. Penulis adalah pebisnis dan politisi. Tulisan ini sudah dipublikasikan di akun medsos pribadinya]
(*) Untuk membaca tulisan Sudaryono yang lainnya, silahkan KLIK DI SINI.
Baca Juga:
Riset LPEM FEB UI: Pindar AdaKami Jadi Bantalan Saat Masyarakat Hadapi Tekanan Ekonomi
Dari Budaya Etnik Li hingga Asian Beach Games: Sanya Tampilkan Identitas Budaya Sambut Tamu Asia
Dahua Technology Luncurkan Laporan ESG 2025: Dorong Pembangunan Berkelanjutan lewat Inovasi Digital





