Benarkah, Saat Ini Pemerintah Sedang Merebus Katak?

Avatar photo

- Pewarta

Minggu, 7 Oktober 2018 - 14:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DALAM TEORI merebus katak, pertama tama kita menaruh katak hidup di dalam panci yg berisi air dingin. Kemudian perlahan dan bertahap suhu panci kita naikan, maka lambat laun air menjadi panas. Namun karena katak memiliki mekanisme penyesuaian suhu sekitar pada kulitnya, katak tidak merasakan hangatnya air.

Semakin lama semakin panas air di dalam panci, katakpun terus menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar, sehingga pada akhirnya katak sudah tidak mampu lagi menyesuaikan diri dengan air panas yg mendidih, katak berusaha untuk melompat dari panci dengan kedua kakinya.

Sialnya, dasar panci juga sudah menjadi terlalu panas untuk menjadi pijakan kaki katak dalam melompat, sehingga katak gagal melompat dan akhir nya mati terebus dalam air yg mendidih. Tragis? Menurut saya lebih tragis bangsa Indonesia pada saat ini.

Pemerintahan Jokowi seakan meninabobokan rakyat dari keadaan ekonomi dan politik indonesia yang sebenarnya. Mekanisme penyesuaian diri milik katak itulah sebenarnya media yang diperalat oleh pemerintah untuk mengabaikan early warning system atau deteksi dini tsunami ekonomi yang sebenarnya.

Bagaimana tidak, media justru membanggakan bagaimana penanganan ekonomi dalam negeri. Mulai dari rendahnya tingkat inflasi, tercapainya swasembada pangan, berhasilnya mengakuisisi freeport, diluncurkannya mobil nasional dan lain sebagainya.

Bahkan kenaikan nilai tukar dollar ke rupiah yang sudah mencapai Rp. 15.200 per dolar atau selalu merahnya bursa saham IHSG bahkan neraca perdagangan luar negeri yang minus dan defisit apbn dianggap suatu hal yang biasa-biasa saja. Sama persis katak tidak merasakan panasnya air.

Bahkan beberapa kejadian penanganan gempa bumi di Lombok dan tsunami di Palu, seharusnya menjadi peringatan keras bagi pemerintahan jokowi bahwa ada yang salah dalam tata kelola bangsa dan negara di Indonesia.

Kita harus waspada dan siaga. Karena sebenarnya alam telah mengingatkan kita melalui bencana yang bertubi2. Mulai dari kebakaran hutan pada tahun 2015 sampai gunung api yg meletus secara beruntun di negara kita.

Oleh karena itu saya minta rakyat indonesia sadar bahwa negara kita sedang keadaan genting, seperti katak dalam panci, Janganlah pemerintah justru sibuk membuat alasan untuk terus mempertahankan situasi yang ada.

Jangan sampai kita menjadi katak yang akhirnya mati karena tidak memperdulikan early warning system yang telah bosan berbunyi. Dan akhirnya ketika kita semua sadar, semuanya telah terlambat dan tidak bisa menghindar lagi dari bahaya tersebut.

Berhentilah menjadi cebong (anak katak), karena pada akhirnya sekuat apapun usahamu, maksimal engkau akan tetap menjadi seekor katak yang terebus. (*)

[Oleh : Fransiscus Xaverius Wawolangi, pemerhati sosmed, twitter @francdoubleu]

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru