“Ayooo Mas Nig becaan…..,” tiba-tiba suara ramai kami dibelah oleh suara dengan logat Jawa yang kental, menyebut dan mengajak saya. Kami semua menoleh. Tokoh besar itu, ta Pak JO tiba-tiba mengajak saya. Saya tersipu-sipu, semua yang hadir terheran-heran.
Tak lama becak sudah bergerak. Antara senang dan sungkan bercampur aduk. Bayangkan sejak 1981-1994 saya ada di Kompas dan Mingguan BOLA, seingat saya hanya dua kali saya bertemu Pak JO.
Pertama sesaat setelah untuk pertama kali sejak 1977 ikut Sea Games, Indonesia gagal dinpenyisihan grup. Kalah 5-0 dari Thailand, menang 2-1 atas Burma, dan serin1-1 dengan Brunei Darussalam. Buntut kegagalan itu, terjadi perseteruan antara Iswadi Idris, pelatih dengan Siswanto, pemain.
Kompas yang menurunkan beritanya, polemik itu diselesaikan di ruang Pak JO. Semua pihak diundang, termasuk saya. Al-hasil persoalan selesai dengan baik.
Lalu yang kedua, sekitar 1988an. Saya, Mas Zaenal Effendi (fotographer),Kang Hikmat, lebih dulu tiba di kantor BOLA, Pal Merah, setelah rapat tahunsn di Cipanas. Tiba-tiba Pak JO muncul. Intinya mencari mas Sumo dan Mas Nito.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






