Mengapa Semakin Dipersekusi, KAMI Malah Menjadi Semakin Seksi

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 29 September 2020 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para Tokoh Indonesia saat deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). (Foto : era.id)

Para Tokoh Indonesia saat deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). (Foto : era.id)

Namun jangankan menjawab tuntutan KAMI, justru yang terjadi adalah sebaliknya, mobilisasi caci maki oleh para buzzer dan influencer plus intimidasi terhadap para aktifis yang ingin mendeklarasikan KAMI di daerah. Sungguh aneh dan memalukan bukan ??

Disinilah kualitas argumentasi dan kualitas kepemimpinan penguasa hari ini sangat jauh dari kata harapan. Buktinya, banyak tindakan emosional yang menggunakan kekuasaan dengan berbagai cara dalam menjegal deklarasi KAMI yang menunjukkan bentuk “ketidakkuasaan” penguasa hari ini untuk beradu argumentasi dan membantah setiap tuntutan yang disampaikan KAMI.

Apalagi ternyata, dengan berbagai intimidasi dan penindasan ini justru membuat KAMI semakin solid dan kuat. Hampir tiap hari masing-masing daerah di seluruh nusantara berlomba untuk segera mendeklarasikan KAMI di daerahnya tak peduli lagi kalau akan berhadapan dengan kekuasaan sekalipun.

Yang unik dari semua ini adalah, kalau kita perhatikan eskalasi penolakan terhadap KAMI ini semakin meningkat sejak statemen Pak GN tentang isu dan gejala kebangkitan neo-PKI. Ditambah dengan komentar tegas Pak GN tentang komitmen dirinya rela turun gunung meninggalkan suasana kenyamanan masa pensiunnya demi membela Pancasila yang akan diubah oleh satu kelompok politik tertentu. Dimana itu adalah sebagai dharma baktinya sebagai seorang prajurit sapta marga.

Sejak itulah, dimanapun Pak GN turun dalam deklarasi KAMI ini, maka secara seragam akan ada para demonstran dan sebaran spanduk plus aksi menolak KAMI.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru