Namun jangankan menjawab tuntutan KAMI, justru yang terjadi adalah sebaliknya, mobilisasi caci maki oleh para buzzer dan influencer plus intimidasi terhadap para aktifis yang ingin mendeklarasikan KAMI di daerah. Sungguh aneh dan memalukan bukan ??
Disinilah kualitas argumentasi dan kualitas kepemimpinan penguasa hari ini sangat jauh dari kata harapan. Buktinya, banyak tindakan emosional yang menggunakan kekuasaan dengan berbagai cara dalam menjegal deklarasi KAMI yang menunjukkan bentuk “ketidakkuasaan” penguasa hari ini untuk beradu argumentasi dan membantah setiap tuntutan yang disampaikan KAMI.
Apalagi ternyata, dengan berbagai intimidasi dan penindasan ini justru membuat KAMI semakin solid dan kuat. Hampir tiap hari masing-masing daerah di seluruh nusantara berlomba untuk segera mendeklarasikan KAMI di daerahnya tak peduli lagi kalau akan berhadapan dengan kekuasaan sekalipun.
Yang unik dari semua ini adalah, kalau kita perhatikan eskalasi penolakan terhadap KAMI ini semakin meningkat sejak statemen Pak GN tentang isu dan gejala kebangkitan neo-PKI. Ditambah dengan komentar tegas Pak GN tentang komitmen dirinya rela turun gunung meninggalkan suasana kenyamanan masa pensiunnya demi membela Pancasila yang akan diubah oleh satu kelompok politik tertentu. Dimana itu adalah sebagai dharma baktinya sebagai seorang prajurit sapta marga.
Sejak itulah, dimanapun Pak GN turun dalam deklarasi KAMI ini, maka secara seragam akan ada para demonstran dan sebaran spanduk plus aksi menolak KAMI.





