Akhirnya kita semakin tahu siapa yang bermain di balik ini semua. Siapa yang menggerakkan, memback up, memobilisasi, membiayai hingga sekalian juga mengintimidasi aktifis KAMI. Pola gerak dan strateginya sama di8tiap daerah yaitu : Dengan alasan covid, pemilik tempat kmembatalkan izin, padahal kampanye Pilkada diperbolehkan.
Ada juga yang sengaja tidak mengeluarkan izin namun di satu sisi menggerakkan elemen massa bayaran (yang tentunya juga tidak berizin), untuk demo membubarkan acara KAMI dengan alasan tak ada izin. Modus dan polanya sangat mudah ditebak.
Yang konsen disuarakan KAMI adalah melawan kebangkitan komunisme, pembelaan terhadap Pancasila, dan tentang kedaulatan negara di segala bidang. Tapi diframing seolah-olah KAMI ini sebagai penjahat.
Nah..disinilah distorsi itu sering terjadi. Yaitu para aparat negara yang masih merah-putih namun ditugaskan untuk membubarkan acara KAMI menjadi serba salah. Karena berlawanan dengan suara batinnya sebagai prajurit.
Sebagai prajurit yang disumpah setia pada Pancasila dan membela kedaulatan negara, dipaksa untuk melawan KAMI yang jelas tujuannya sangat patriotik demi negara. Kan jadi aneh ??





