Hal ini kalau dirangkaikan akan terlihat jelas bahwasanya, semua itu hanyalah “proxy” massa bayaran dari sebuah kekuatan yang tidak tampak namun bermain menggunakan tangan kekuasaan (siapa itu ? Kita sudah sama-sama tahu ajalah lembaganya).
Terbongkarnya proposal PMII kota Surabaya adalah salah satu bukti konkritnya. Untuk itu, dari tindakan persekusi terhadap KAMI ini, kita dapat menarik beberapa kesimpulan ;
- Semakin KAMI dijegal di daerah dengan berbagai macam trik dan alibi, justru KAMI semakin bergelora dan semakin mendapat simpati rakyat Indonesia. Itu adalah fakta.
- Persekusi terhadap Pak GN di tiga kota sebelumnya, terakhir di Surabaya sudah mulai menimbulkan riak dan detak jantung jiwa korsa sesama keluarga besar TNI. Baik yang masih aktif, maupun yang sudah pensiun, bahkan sampai organisasi binaan TNI.
Karena, kalau berbicara kehormatan dan jiwa korsa, orang tidak lagi melihat sosok, tetapi adalah Pak GN sebagai mantan Panglima TNI jendral bintang empat penuh. Sebagai keluarga besar TNI yang dididik dan dibina dengan semangat jiwa korsa, akan mendidih darah jiwa dan raganya melihat mantan Panglima mereka digelandang dan dicaci maki.
Parahnya lagi, adegan ini seakan dibiarkan begitu saja. Pemandangan ini sangat menyakitkan bagi keluarga besar TNI. Ini sama saja menginjak-nginjak kehormatan TNI sebagai komponen utama sistem pertahananan negara ini. Meskipun Pak GN sudah pensiun.





