Mengapa Semakin Dipersekusi, KAMI Malah Menjadi Semakin Seksi

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 29 September 2020 - 16:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Para Tokoh Indonesia saat deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). (Foto : era.id)

Para Tokoh Indonesia saat deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). (Foto : era.id)

Hal ini kalau dirangkaikan akan terlihat jelas bahwasanya, semua itu hanyalah “proxy” massa bayaran dari sebuah kekuatan yang tidak tampak namun bermain menggunakan tangan kekuasaan (siapa itu ? Kita sudah sama-sama tahu ajalah lembaganya).

Terbongkarnya proposal PMII kota Surabaya adalah salah satu bukti konkritnya. Untuk itu, dari tindakan persekusi terhadap KAMI ini, kita dapat menarik beberapa kesimpulan ;

  1. Semakin KAMI dijegal di daerah dengan berbagai macam trik dan alibi, justru KAMI semakin bergelora dan semakin mendapat simpati rakyat Indonesia. Itu adalah fakta.
  2. Persekusi terhadap Pak GN di tiga kota sebelumnya, terakhir di Surabaya sudah mulai menimbulkan riak dan detak jantung jiwa korsa sesama keluarga besar TNI. Baik yang masih aktif, maupun yang sudah pensiun, bahkan sampai organisasi binaan TNI.

Karena, kalau berbicara kehormatan dan jiwa korsa, orang tidak lagi melihat sosok, tetapi adalah Pak GN sebagai mantan Panglima TNI jendral bintang empat penuh. Sebagai keluarga besar TNI yang dididik dan dibina dengan semangat jiwa korsa, akan mendidih darah jiwa dan raganya melihat mantan Panglima mereka digelandang dan dicaci maki.

Parahnya lagi, adegan ini seakan dibiarkan begitu saja. Pemandangan ini sangat menyakitkan bagi keluarga besar TNI. Ini sama saja menginjak-nginjak kehormatan TNI sebagai komponen utama sistem pertahananan negara ini. Meskipun Pak GN sudah pensiun.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru