Saking pentingnya memetik “pelajaran” dari peran Bu Tejo. Saya pun bernasihat kepada 12 ibu-ibu warga belajar di GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) Lentera Pustaka di Kaki Gunung salak Bogor. Ibu-ibu yang tersingkir oleh zaman. Karena belum bisa baca dan tulis di zaman yang katanya canggih, zaman digital.
Setiap minggu ibu-ibu kampung ini secara rutin belajar baca dan tulis. Agar bisa membaca sekalipun hanya mengeja. Agar bisa menulis sekalipun tidak bagus tulisannya. Agar lebih berdaya dari hari-hari kemarin. Sebuah perbuatan baik yang ada pada ibu-ibu kaum buta aksara.
Ibu-ibu warga belajar buta aksara di GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) Lentera Pustaka. Tentang Bu Tejo, maka saya bernasihat kepada ibu-ibu warga belajar buta aksara di GEBERBURA.
“Bu, kita ini sama sekali tidak bisa nambah atau kurangi umur. Itu bukan kuasa kita. Tapi kuasa Allah SWT. Kita juga tidak bisa mengontrol orang lain untuk berprasangka buruk atau tidak pada kita. Kita juga tidak bisa halau orang untuk berbuat zolim kepada yang lainnya.
Tapi yang kita bisa lakukan, hanya terus berbuat baik dan belajar. Termasuk terus semangat belajar baca-tulis…” ujar saya saat di akhir pelajaran.
Halaman : 1 2 3 Selanjutnya





