Kenapa Bu Tejo Senang Bergunjing? Pasti Begini Alasannya

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 26 Agustus 2020 - 16:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ibu-ibu warga belajar buta aksara di GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) Lentera Pustaka. (Foto : TBM Lentera Pustaka)

Ibu-ibu warga belajar buta aksara di GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBERBURA) Lentera Pustaka. (Foto : TBM Lentera Pustaka)

Opiniindonesia.com – Sosok Bu Tejo di film pendek “Tilik” ngetop dan viral. Apa pelajarannya?Tentu ada pelajaran yang harus bisa dipetik dari film pendek itu. Sekalipun hanya hiburan. Peran Bu Tejo dan semua obrolan dan gunjingannya adalah sesuatu yang dekat dalam kehidupan orang-orang Indonesia.

Apalagi di kalangan ibu-ibu. Bahwa dalam kehidupan nyata, selalu ada saja orang-orang yang kerjanya hanya menggunjing, gibah, atau membicarakan kejelekan orang lain. Tapi dalam hidup itu, ada saja orang yang berperan seperti Yu Ning yang selalu berpikir baik dan berbuat baik. Untuk “mencegah” Bu Tejo tidak kebablasan dalam menggunjing orang lain.

Gunjing atau gibah itu dekat dengan kehidupan nyata. Membicarakan kejelekan orang lain itu gampang dan mudah. Bahkan di zaman canggih seperti sekarang. Gunjing dan gibah itu sudah “berpindah” ke digital. Grup WA atau chat pribadi yang kerjanya menggunjing, menggibahi orang lain.

Obrolan lewat ponsel yang kerjanya membahas orang lain, mempersoalkan orang lain. Dan mereka, tanpa sadar, sudah menggunjing dan menggubahi orang lain. Itu semua terjadi karena mereka “merasa baik” walau bukan orang baik yang sesungguhnya.

Sungguh, menggunjing itu hanya terjadi pada orang-orang yang “belum baik” dan terlalu jauh kepada sang pencipta. Hanya tahu sedikit tapi bicara banyak. Orang-orang yang “kering” hatinya, orang yang terlalu banyak berkeluh-kesah dalam hidupnya. Tanpa bisa berbuat baik secara nyata untuk orang lain.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru