KPAI Sayangkan Anak Anak Berada Dalam Demonstrasi Rusuh

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 14 Oktober 2020 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @jakarta.ku)

Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @jakarta.ku)

Opiniindonesia.com – Lepas diumumkan dari mobil komando aksi selesai. Tiba tiba di depan saya nampak dua orang saling menarik baju dalam kondisi lari, yang dilerai ratusan orang. Kondisi tidak kondusif tersebut menyebabkan saya berusaha menjauh.

Saya mengikuti aliran massa yang padat mengalir menuju gambir. Namun saya membelokkan diri karena belum Sholat ashar. pintu Monas patungkuda saya menuju Masjid dalam parkir IRTI. Saya melihat jam 15.44 WIB

Namun ditengah sholat, suara dentuman berulang kali, yang membuat mata saya perih. Sangat terlihat kepulan asap memenuhi Masjid di Parkir IRTI Monas.

Selepas sholat,.didalam pagar Monas saya melihat anak anak melempari pasukan anti huru hara yang berusaha pelan pelan bergerak membubarkan massa yang melempari kepolisian. Sampai pukul 16.38 dentuman suara dan raungan ambulan masih terus menggema.

Demonstrasi tolak Omnibus Law yang awalnya kondusif diakhiri kerusuhan, KPAI sangat menyayangkan anak anak kembali jadi martir terdepan dengan mereka berani melempari kepolisian. Bahkan nampak ada yang mendekat pasukan bermotor kepolisian.

Cukup tegang pemandangan anak anak yang terus di desak mundur, dengan terus mereka melempari pasukan Kepolisian.

Mulai jam 13.30 saya berada di depan pintu Monas patung kuda. Duduk di pelataran taman, berusaha berbaur dengan massa anak yang hadir. Ribuan anak nampak di dalam massa yang memadati lingkaran patung kuda dan depan pintu Monas.

Saya menemui anak anak yang lama kelamaan asyik ngobrol dengan saya, saya bertukar cerita masa kecil. Merekapun mengakui massa kecil yang sama.

Ceritapun mengalir, mereka 2 kali dari Cengkareng naik mobil bak. Dari Cengkareng sampai Grogol kemudian dari Grogol sampai Harmoni. Dari Harmoni mereka jalan sampai disini.

Kata mereka meski PJJ tapi lama lama hanya tugas yang diberikan guru. Sehingga mereka libur panjang dan sering nongkrong. Teman sebelahnya berseloroh sekarang lebih banyak tawuran, katanya.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru