KPAI Sayangkan Anak Anak Berada Dalam Demonstrasi Rusuh

Avatar photo

- Pewarta

Rabu, 14 Oktober 2020 - 11:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @jakarta.ku)

Unjuk rasa menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja. (Foto : Instagram @jakarta.ku)

Lain lagi ketika saya menemui anak anak yang lain, saya tertarik ada anak anak usia SD yang nampak di jangkauan mata saya, lewat dan memegang lembaran lembaran uang 5000 ribu.

Saya berseloroh di depan mereka ‘wah duitnya bagus nih dan rokoknya’ mereka menjawab itu ada Abang Abang yang ngasih. Mereka kemudian lanjut, nampak seorang Ibu penjual berteriak rokok ketengan rokok ketengan, kemudian mereka membeli. Setelah itu mereka menuju gerobak jualan es.

Saya melanjutkan menghampiri anak yang mengaku kelas 2 SMP dari Tanjung Priok, saya diskusi aksi, dan terungkap anak khawatir ketika ia bekerja dibayar dengan kontrakan perjam. Ia melanjutkan tidak tega melihat orang tua tidak istirahat dalam bekerja, kecuali Hari Minggu dan hari biasa bekerja cuma boleh istirahat 1 jam.

Saya juga menghampiri anak perempuan, ia mengaku sekolah di SMK Jatinegara. Ia datang ke lokasi, diajak teman temannya. Dan ia mulai bosan PJJ katanya.

Selanjutnya saya menghampiri anak SMP. Ia mengaku naik kereta dari Tanggerang ke sini. Ikut ini ajakan dari teman temannya di sosial media yang dia mengikuti grupnya. Sejak bayi ia sudah ditinggal Bapaknya dan Ibu nikah lagi. Namun karena situasi di rumah, ia sering tinggalkan Ibunya.

Situasi anak anak dalam demo deminstrasi kelihatan berkelompok kelompok dan tidak memperhatikan orasi dariobil komando. Nampak mereka berbagi hisapan rokok, makanan. Saya coba mengajak beberapa anak pakai masker, kemudian mereka menurutinya, kecuali anak anak yang merokok.

Situasi kesehatan yang buruk, seperti merokok, bermasker tidak ada yang mengingatkan, lingkungan kecenderungan mwmbiarkan perilaku tersebut. Padahal seperti ketahui Jakarta masih Zona Merah.

Berjaga jarak, menghindari kerumunan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan, karena derasnya aliran massa dan massa padat berkumpul di lingkaran patung kuda dan depan pintu Monas.

Pengamatan KPAI dari tahun 2017 s.d. 2019 pelibatan anak dalam kampanye Pilkada, Pilpres trennya meningkat. Namun kenyataannya anak anak lebih massif pada aksi penolakan RUU, seperti RKUHP, RUU KPK, RUU HIP, dan Undang Undang Cipta Kerja. Kekerasan dan kerusuhan justru banyak terjadi disini yang melibatkan anak anak.

Padahal malam sebelumnya (pada 9/10) saat saya mendatangi Polda Metro Jaya melakukan koordinasi disampaikan ada 5 anak menjalani proses hukum pasca demo Kamis sore, karena terlibat kerusakan fasilitas publik.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru