Lain lagi ketika saya menemui anak anak yang lain, saya tertarik ada anak anak usia SD yang nampak di jangkauan mata saya, lewat dan memegang lembaran lembaran uang 5000 ribu.
Saya berseloroh di depan mereka ‘wah duitnya bagus nih dan rokoknya’ mereka menjawab itu ada Abang Abang yang ngasih. Mereka kemudian lanjut, nampak seorang Ibu penjual berteriak rokok ketengan rokok ketengan, kemudian mereka membeli. Setelah itu mereka menuju gerobak jualan es.
Saya melanjutkan menghampiri anak yang mengaku kelas 2 SMP dari Tanjung Priok, saya diskusi aksi, dan terungkap anak khawatir ketika ia bekerja dibayar dengan kontrakan perjam. Ia melanjutkan tidak tega melihat orang tua tidak istirahat dalam bekerja, kecuali Hari Minggu dan hari biasa bekerja cuma boleh istirahat 1 jam.
Saya juga menghampiri anak perempuan, ia mengaku sekolah di SMK Jatinegara. Ia datang ke lokasi, diajak teman temannya. Dan ia mulai bosan PJJ katanya.
Selanjutnya saya menghampiri anak SMP. Ia mengaku naik kereta dari Tanggerang ke sini. Ikut ini ajakan dari teman temannya di sosial media yang dia mengikuti grupnya. Sejak bayi ia sudah ditinggal Bapaknya dan Ibu nikah lagi. Namun karena situasi di rumah, ia sering tinggalkan Ibunya.
Situasi anak anak dalam demo deminstrasi kelihatan berkelompok kelompok dan tidak memperhatikan orasi dariobil komando. Nampak mereka berbagi hisapan rokok, makanan. Saya coba mengajak beberapa anak pakai masker, kemudian mereka menurutinya, kecuali anak anak yang merokok.
Situasi kesehatan yang buruk, seperti merokok, bermasker tidak ada yang mengingatkan, lingkungan kecenderungan mwmbiarkan perilaku tersebut. Padahal seperti ketahui Jakarta masih Zona Merah.
Berjaga jarak, menghindari kerumunan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan, karena derasnya aliran massa dan massa padat berkumpul di lingkaran patung kuda dan depan pintu Monas.
Pengamatan KPAI dari tahun 2017 s.d. 2019 pelibatan anak dalam kampanye Pilkada, Pilpres trennya meningkat. Namun kenyataannya anak anak lebih massif pada aksi penolakan RUU, seperti RKUHP, RUU KPK, RUU HIP, dan Undang Undang Cipta Kerja. Kekerasan dan kerusuhan justru banyak terjadi disini yang melibatkan anak anak.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
Padahal malam sebelumnya (pada 9/10) saat saya mendatangi Polda Metro Jaya melakukan koordinasi disampaikan ada 5 anak menjalani proses hukum pasca demo Kamis sore, karena terlibat kerusakan fasilitas publik.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






