Kemudian koordinasi di (10/10) dengan Mabes Polri, terlaporkan 3.565 anak telah diamankan. Tentu saja dengan kerusuhan hari ini akan menambah barisan anak anak yang diamankan. Mengapa harus anak anak?
Anak anak menjadi kelompok rentan didalm lautan massa seperti ini, apalagi kondisi pembatasan selama pandemi, menambah ketertekanan anak.
Tentu dengan membanjirnya informasi ini, menyebabkan anak anak mudah terlibat, akibat kondisi psikologis mereka.
Ditambah kepemahaman mereka yang masih dalam tahap berkembang disertai emosional yang belum stabil. Maka memudahkan anak anak menjadi martir kekerasan.
Ini yang harus disadari para penyelenggara demonstrasi. Tanpa harus bilang mereka sedang mengajak anak pada ancaman jiwa dan mudahnya mereka terpengaruh dalam psikologis aksi massa.
Psikologis anak anak yang akrab dengan gadgetnya dan produksi ekspresi politik di gadget yang masuk ke akun dan grup mereka.
Menyebabkan anak banyak mengkonsumsi ekspresi politik hari ini. Dan situasi pembatasan menyebabkan mereka terpanggil untuk datang.
Informasi yang diterima anak anak, mereka khawatir aturan ini mengancam pada mereka dan orang tua. Dengan informasi yang sangat terbatas diterimanya, namun karena ramai di akun dan medsos mereka, menyebabkan mereka sampai disini.
Ditambah latar belakang anak yang saya jumpai berada dalam perlindungan keluarga yang minim. Seperti putus sekolah, ortu jarang pulang karena temptmat kerja yang jauh, PJJ yang berakhir menjadi aktifitas pengajaran offline yang hanya berujung penugasan pekerjaan rumah.
Baca Juga:
CMEF 2026 Resmi Ditutup di Shanghai, Tampilkan Inovasi Medis Global dan Tren Industri Masa Depan
Terbitkan Laporan ESG 2025, Hikvision Dorong Pembangunan Berkelanjutan Lewat “Tech for Good”
KPAI sangat khawatir bila kondisi ini terus berlangsung berhari hari. Maka trennya anak anak akan semakin banyak yang terlibat. Dan kecenderungn demonstrasi rusuh selalu melibatkan anak anak. Karena mereka tidak sekuat orang dewasa dan muda terpengaruh.
Halaman : 1 2 3 4 Selanjutnya






