Peneliti CIPG Rinaldi Camil mengatakan para influencer di media sosial memiliki kekuatan besar dalam mempengaruhi suara publik. Misalnya dengan kemampuan yang mereka memiliki untuk membentuk opini publik.
Dan influencer bisa menjalankan peran sebagai buzzer, tapi tidak semua influencer itu adalah buzzer. Influencer bisa disebut buzzer ketika ia memviralkan pesan. Kapabilitas itu dimiliki oleh influencer karena ia punya pasukan buzzer dan juga dianggap memiliki kapabilitas yang mumpuni.
Kekuatan besar yang mereka miliki ini membuat penetrasi isu-isu politik yang digaungkan buzzer menyebar dengan cepat. Pratama Persadha mengatakan media sosial juga mejadi alat terbaik untuk memberikan konten-konten tepat sasaran kepada khalayak.
“Algoritme seluruh media sosial juga membuat konten-konten pesanan menjadi tepat sasaran dan efektif kepada khalayak yang hendak dituju”, katanya.
Media sosial menjadi tempat yang nyaman karena algoritme mengatur konten yang pengguna sukai. Fenomena ini dinamakan Echo Chamber yang berarti pengguna media sosial berada di lingkungan pertemanan yang berpikiran serupa.






