Penelitian Oxford University mengungkap buzzer Indonesia untuk menyebar propaganda pro-pemerintah, pro-partai, menyerang oposisi, dan menciptakan polariasasi. (CNN Indonesia – Minggu, 6/10/2019).
Penelitian berjudul ‘The Global Disinformatìon Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation‘ yang digarap oleh Samantha Bradshaw dan Philip N. Howard itu menyebutkan Indonesia menjadi satu dari 70 negara yang menggunakan pasukan siber alias buzzer untuk sejumlah kepentingan sepanjang 2019.
Dalam laporan setebal 23 halaman itu menyebutkan sejumlah pihak di Indonesia yang menggunakan buzzer adalah politisi, partai politik, dan kalangan swasta.
Meski tidak secara spesifik menyebut nama atau partai politik di Indonesia yang dimaksud, penelitian itu membeberkan setidaknya ada tiga tujuan yang diincar para buzzer, yakni menyebarkan propaganda pro-pemerintah atau pro-partai, menyerang oposisi, hingga membentuk polarisasi.
Kesimpulan berikutnya dari paparan ini mengingatkan kepada semua elemen pergerakan – tak hanya buruh dan serikat buruh – bahwa media social itu jika pun dianggap tak perlu ada juga buzzer dan influencer – patut menjadi perhatian agar dapat juga dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung dan memperkuat langkah-langkah perjuangan.






