Retorika Perlawanan Massa : Dari Pelesetan Hingga Ujaran Kebencian

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 14:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Tetapi, saat pencabutan DOM, Jenderal Wiranto lewat media massa saat itu hanya menyatakan permintaan maaf atas kekeliruan para prajurit yang telah bertindak “di luar batas kepatutan”. Samakah kemanusiaan dengan kepatutan? Di sini telah terjadi dwifungsi ABRI dalam bidang bahasa atau lebih tepatnya “militerisasi kosakata”.

Lalu, sejak masuk Orde Reformasi retorika perlawanan massa cenderung kasar,  sarkasme, liar tanpa batas, bagai kuda lepas dari pingitan. Memang benar. Setelah masyarakat Indonesia selama Orde Baru terlena sekaligus tercekam ketakutan dalam ayunan eufemisme, sekarang di era pasca-Orba, puncaknya pada pemerintahan Joko Widodo (2014—sekarang) semua orang berani menghujat-hujat, menyumpahserapah, mencaci maki kelewat batas, menebar hoax dan ujaran kebencian, bahkan kepada presidennya sekalipun!

Dinamika Pelesetan Zaman Orde Baru

Menghadapi “teknologi kepatuhan hegemonis” rezim Orba, mahasiswa dan kelompok kritis lain justru menyuburkan retorika perlawanan “kontra-eufemisme” di bawah permukaan.

Sementara, di atas permukaan publik berlangsung stagnasi statis rezim otoriter-represif Orde Baru, pada arus bawah tumbuh subur dinamika pelesetan politis sepanjang waktu.

Contohnya pelesetan kepanjangan akronim baku nasional, sengaja dipermainkan akronim resmi sebagai perangkat legal kekuasaan. Karena keadilan pun bisa dibeli, misalnya, KUHP itu “Kasih Uang Habis Perkara”. Judi legal nasional Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) dipelesetkan menjadi “Soeharto Dalang Semua Bencana”.

Ketidakpuasan terselubung para petani desa terhadap keculascurangan pengurus KUD melahirkan pelesetan KUD sebagai “Ketua Untung Duluan”. Sikap tidak suka akan pejabat dan para kroninya memicu lahirnya pelesetan macam Harmoko itu “Hari-hari omong kosong” atau TIMOR sebagai “Tommy Itu Memang Orang Rakus”. Kita tahu, Harmoko menteri penerangan Orde Baru; Tommy merujuk putra Prersiden Suharto.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Praktik Integrasi “Eco+” Ningbo Ditampilkan dalam Forum SCO

Selasa, 28 Apr 2026 - 18:30 WIB