Puisi dan Anekdot Perlawanan Terselubung
Aktivis dan mahasiswa kurun 1986-1999 ternyata juga mendayagunakan comotan larik puisi radikal dan kata-kata tokoh dunia. Misalnya baris terakhir bait terakhir puisi “Peringatan” karya penyair Solo, Wiji Thukul, yang hilang diculik itu, begini: “maka, hanya ada satu kata: lawan!”, yang selengkapnya demikian:
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan! (Thukul, 2015)
Karya penyair ketua Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker) ini sebenarnya ditulis dan langsung beredar kopiannya sejak 1986. Tetapi, kebanyakan aktivis (mahasiswa, prodemokrasi, buruh) tidak mengetahui bahwa ini karya Wiji Tukul, walaupun hampir dalam setiap orasi unjuk rasa dan selebaran mereka torehkan.




