Retorika Perlawanan Massa : Dari Pelesetan Hingga Ujaran Kebencian

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 14:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Dunia pers pun merangkak ketakutan sembari terus-menerus melakukan sensor diri (self-censor) ketika harus mengangkat fakta-fakta miring tentang ABRI dan keluarga Cendana. Jika berani nekat, terlalu besar risiko keselamatan yang harus ditanggung.

Dari latar tersebut, retorika perlawanan rakyat cenderung berkembang paradoksal dari eufemisme ke sarkasme. Kelihatannya, masa Orde Baru memang dicorakwarnai dominasi eufemisme, terutama pada retorika pidato pejabat, dan media massa bertekuk lutut tanpa daya di bawah kontrol opresif.

Berani berbahasa terus terang, ia harus siap dibredel. Eufemisme an sich menyimpan paradoks: ketenangan sekaligus ketakutan, pasrah sekaligus munafik.

Akan tetapi, tahukah kita bahwa sesungguhnya, dominasi eufemisme yang cemas ketakutan itu hanya terjadi pada “sektor permukaan”. Pada “sektor di bawah permukaan” lewat diskusi gelap, bisik-bisik, dan debat kusir kampus, pondokan, poskamling, warung kopi, eufemisme lenyap total, dan digantikan retorika nakal, liar, dinamis, sebagai wujud praksis mekanisme pertahanan dan perlawanan diri. Retorika ini senantiasa menjadikan pihak dominan (penguasa) sebagai bahan bulan-bulanan.

Dinamikanya luar biasa. Inilah strategi pertawanan terselubung kelompok masyarakat bawah (awam dan kampus) ketika tidak berdaya menghadapi penindasan fisik dari rezim birokratis-militeristik Orde Baru.

Pada realitas empiris, massa memang kalah. Tetapi, pada realitas simbolis kultural, massa bebas membalas, mengejek, mempermainkan penguasa, tanpa dapat dikontrol aparat intel. Ini adalah “perlawanan terselubung orang-orang yang kalah–meminjam perspektif antropolog-politik James C. Scott (Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcripts, 1992)–untuk menggapai kemenangan katarsis.

Di bawah payung eufemisme selama Orde Baru, mahasiswa tidak pernah ditangkap, hanya “diamankan”. Kita juga masih ingat, kurun 1989-1998 DOM di Aceh berlangsung praktik kekejaman di luar batas kemanusiaan.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Praktik Integrasi “Eco+” Ningbo Ditampilkan dalam Forum SCO

Selasa, 28 Apr 2026 - 18:30 WIB