Retorika Perlawanan Massa : Dari Pelesetan Hingga Ujaran Kebencian

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 14:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Contoh lainnya masih banyak. UUD: ujung-ujungnya duit; SDM: selamatkan diri masing-masing; semua dari Makasar (zaman Presiden Habibie). STNK: sudah tua namun kejam (tertuju pada Presiden Suharto). Korpri: koruptor pribumi. Bakorstanas: bahaya korupsi sudah taraf nasional.

Retorika perlawanan di bawah permukaan juga dimeriahkan oleh pelesetan pameo historis-populis, khususnya yang dihubung-hubungkan dengan Soekarno. Misalnya: “Soekamo penyambung lidah rakyat, Soeharto penyambung lidah keluarga, Habibie penyambung lidah Soeharto“.

Ketika ingat santiaji Bung Karno “Kutitipkan negara ini padamu“, mahasiswa pun menciptakannya untuk Pak Harto: “Kutitipkan utang ini padamu“.

Pelesetan paling heroic, bahkan sampai sekarang, tentu saja Sumpah Mahasiswa yang dicipta untuk menggugat kembali keampuhan spirit Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, untuk konteks historiopolitis yang berbeda. Begini: “Kami mahasiswa-mahasiswi Indonesia mengaku: satu, bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan; dua, berbahasa satu, bangsa yang gandrung keadilan; tiga, berbahasa satu, bahasa kebenaran”. Pelesetan ini mampu memicu spirit dan nyali mahasiswa di seluruh pelosok tanah air untuk serentak bergerak.

Dibawah rezim Suharto dan di masa awal Reformasi ABRI (sekarang TNI) pun menjadi sasaran pelesetan sebagai ekspresi kemarahan massa terhadap kekejaman mesin kekuasaan Orde Baru itu. Mengkritik terus terang jelas berisiko tinggi: suatu tindakan martiris, tetapi sedikit konyol, bagai membenturkan kepala ke tembok. Maka, gerilya wacana terselubung di bawah permukaan menjadi alternatif paling rasional. Sikap sinisme tampak dalam syair lagu “Lihat kebunku penuh dengan bunga …” (ciptaan Saridjah Niung, atau lebih popular Ibu Sud), yang dipelesetkan begini: “Lihat Cendana, penuh dengan ABRI/ Ada tentara dan ada polisi/ Setiap hari mahasiswa aksi / Tuntut Soeharto, harus diadili“.

Fenomena sosial militer lain yang layak dicatat adalah bahwa hampir dalam setiap acara, ABRI selalu “berdangdut ria”; bahkan melahirkan apa yang disebut “joget komando”, “joget terpimpin”, yang tidak saja di lingkungan asrama barak militer, tetapi juga sudah merembet ke karyawan Depdagri.

Mengapa ABRI suka dangdut? Kata para aktivis, “Karena kepanjangan ABRI yang sesungguhnya adalah Anak Buahnya Rhoma Irama.” Tentu ini sikap minor terhadap institusi militer tersebut.

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Praktik Integrasi “Eco+” Ningbo Ditampilkan dalam Forum SCO

Selasa, 28 Apr 2026 - 18:30 WIB