Retorika Perlawanan Massa : Dari Pelesetan Hingga Ujaran Kebencian

Avatar photo

- Pewarta

Selasa, 18 Mei 2021 - 14:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Pemerhati dan peneliti humor, Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, D. Jupriono. /Dok. D. Jupriono

Karya lain Wiji Tukul yang sering juga dilantangkan adalah bait pertama puisi “Tong-Potong Roti” begini: “tong-potong roti/ roti campur mentega/ Belanda sudah pergi/ Suharto-lah gantinya”. Larik terakhir itu merupakan modifikasi dari larik aslinya yang berbunyi “kini datang gantinya” (Thukul, 2015).

Tentu saja juga puisi Taufik Ismail “Takut 1966, Takut 1998” dan puisi-puisi pamflet W.S. Rendra, menjadi alternative untuk diorasikan dan diposterkan. Puisi Taufik melukiskan lingkaran berangkai kekuasaan yang membelit secara sistematis struktural elemen masyarakat kampus dalam relasinya dengan birokrasi pendidikan dan kekuasaan, demikian: “Mahasiswa takut pada Dosen/ Dosen takut pada Rektor/ Rektor takut pada Menteri/ Menteri takut pada Presiden/ Presiden takut pada mahasiswa”.

Penyair pamlet yang sering berurusan dengan aparat kepolisian dan militer adalah Rendra. Puisi-puisinya dalam Potret Pembangunan dalam Puisi (1977; 1996), misalnya, banyak berisi kritik dan perlawanan verbal terhadap penguasa tirani. Salah satunya adalah “Sajak Seorang Tua di bawah Pohon” demikian:

Aku berdiri di muka kantor polisi

Aku melihat wajah berdarah seorang demonstran

Aku melihat wajah kekerasan tanpa undang-undang

Dan sepanjang jalan panjang …

Berita Terkait

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan
Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP
Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK
Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi
Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara
Solusi agar Independensi KPK Bisa Diimplementasikan dengan Baik Tanpa Bubarkan Lembaga
Idulfitri: Mengapa Penting untuk Kembali ke Fitrah yang Sejati
Ketimpangan Ekonomi dan Kesenjangan Sosial di Indonesia: Masalah yang Terus Membayangi Perkembangan Demokrasi

Berita Terkait

Selasa, 19 Agustus 2025 - 11:11 WIB

Galeri Foto Pers Jadi Bukti Transparansi Dan Narasi Keberlanjutan

Selasa, 16 April 2024 - 11:04 WIB

Hangatnya Pertemuan Idul Fitri: Diskusi Perkembangan Pasar Modal di BNSP

Minggu, 15 Oktober 2023 - 10:43 WIB

Pemutusan Batas Usia Calon Presiden: Analisis Dr. Fahri Bachmid Menjelang Putusan MK

Rabu, 24 Mei 2023 - 09:10 WIB

Dewan Sengketa Konstruksi Sebagai Alternatif Penyelesaian Sengketa Konstruksi

Rabu, 12 April 2023 - 20:52 WIB

Martabat MPR Pasca Amandemen UUD 1945, Yusril: Kita Kehilangan Ide Dasar Bernegara

Berita Terbaru

Pers Rilis

Praktik Integrasi “Eco+” Ningbo Ditampilkan dalam Forum SCO

Selasa, 28 Apr 2026 - 18:30 WIB