Lukisan itu yang pertama saya ingat ketika tengah malam, dua anak saya fanatik bola, menghampiri. Wajah mereka sedih.
Saya menduga ada hal sangat penting yang kelam yang ingin Ia sampaikan. Ternyata itu adalah berita duka. “Ayah, Maradona meninggal.”
Kami bertiga terdiam. Dua anak saya ini penggemar fanatik Cristiano Ronaldo. Namun bertiga kami saling berdebat. Bagi saya, Pele dan Maradona belum tergantikan.
Mengapa Maradona belum tergantikan? Ia memiliki elemen genius bola dan madness sekaligus. Ia kontroversial. Ia menjadi magnet di zamannya. Di dada kirinya hidup cahaya. Tapi di dada kanannya hadir ruang gelap.
Dua dimensi sekaligus, terang dan gelap, mewarnai hidup Maradona.
Lihatlah komentar para tokoh ketika Maradona wafat. Pemerintah Argentina segera mengumumkan hari duka nasional selama tiga hari. Mereka menaikan bendera setengah tiang di seantero negeri.
Presiden Argentina Alberto Fernández berkata tentang Maradona: “Dirimu telah membawa semua kami ke puncak dunia. Memberikan kebahagian tiada tara. Kaulah pemain bola terbaik dari semua.” (1)






